Uncategorized

PENGERTIAN SUPERVISI PENDIDIKAN DI INDONESIA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan persoalan vital bagi setiap segi kamajuan dan perkembangan manusia pada khusunya dan bangsa pada umumnya. Kemajuan dalam segi pendidikan maka akan menentukan kualitas sumber daya manusia dan perkembangan bangsa yang kearah lebih baik dan maju. Peningkatan kualitas pendidikan tidaklah mudah melainkan membutuhkan waktu yang panjang dan keterlibatan berbagai komponen dan elemen.
Dewasa kini banyak orang berbicara tentang merosotnya mutu pendidikan. Di lain pihak banyak pula yang mengembor-gemborkan dan menandaskan bahwa perlu dan pentingnya rekonstruksi atau pembaharuan pendidikan dan pengajaran, ironinya sangat sedikit sekali para pemerhati dan pengkritisi pendidikan yang berbicara mengenai soal pemecahan masalahnya (problem solving) perbaikan pendidikan dan pengajarannya agar lebih maju dan mencapai tujuan pendidikan yang hakiki.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berperan sebagai salah satu wakil dari pemerintah pusat Indonesia maka peran sekolah berkewajiban untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam organisasi sekolah, kedudukan kepala sekolah merupakan faktor penentu, pengerak segala sumber daya yang ada dalam sekolah, agar segala komponen yang di dalamnya dapat berfungsi secara maksimal dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kelapa sekolah yang berfungsi sebagai edukator, manajer, administrator, leader, motivator dan supervisor sekolah.
Guru memiliki peran yang sangat besar, besarnya tanggung jawab guru dalam pendidikan merupakan tantangan bila dikaitkan dengan mutu pendidikan dewasa kini. Keluhan masyarakat terhadap merosotnya mutu pendidikan seharusnya dapat menjadi refleksi bagi para guru yang tidak kompeten dan profesional. Guru profesional bukan hanya sekedar dapat menguasai materi dan sebagai alat untuk transmisi kebudayaan tetapi dapat mentransformasikan pegetahuan, nilai dan kebudayaan kearah yang dinamis yang menuntut produktifitas yang tinggi dan kualitas karya yang dapat bersaing.
Dalam konteks ini sebenarnya guru yang kurang profesional sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang lain atau supervisor dalam memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya seperti masalah kurang pahamnya tujuan pendidikan, tujuan kulikuler, serta tujuan instruksional dan oprasional. Sehingga peran guru yang sangat besar dalam meningkatkan mutu pendidikan akan dapat tercapai jika semua permasalahan yang dihadapi oleh para guru dapat dipecahkan dengan baik. Dan seorang yang di sebut supervisor yang mempunyai fungsi sebagai pembimbing, mengarahkan, membantu dalam hal ini adalah Kepala Sekolah (supervisor) yang setiap hari langsung berhadapan dengan guru.
Supervisi merupakan salah satu fungsi kepala sekolah untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru dalam melaksanakan pengajaran. Sehubungan dengan pentingnya aktifitas supervisi sekoalah yang berkaitan dengan peningkatan kualitas guru pada khususnya dan peningkatan mutu pendidikan pada umumnya, maka dalam penulisan makalah ini akan dibahas seputar aktivitas supervisi pendidikan atau sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas mutu pendidikan Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dijelaskan diatas, maka dapat di tarik rumusan permasalahannya antara lain:
1. Apa pengertian dan fungsi supervisi pendidikan?
2. Bagaimana tujuan dan prinsip dari supervisi pendidikan?
3. Bagaimana teknik dan perilaku dari supervisi pendidikan?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Supervisi Pendidikan
Menurut P. Adams dan Frank G. Dickey, supervisi adalah program yang berecana untuk memperbaiki pengajaran. Inti dari supervisi pada hakekatnya adalah memperbaiki hal belajar dan mengajar. Program ini dapat berhasil bila supervisor memiliki ketrampilan (skill) dan cara kerja yang efisien dalam kerjasama dengan orang lain (guru dan petugas pendidikan lainnya). Dalam “Dictionary of Education”, Good Carter, memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran dan metode pengajar dan evaluasi pengajaran.
Program supervisi bertumpu pada suatu prinsip yang mengakui bahwa setiap manusia itu sudah mempunyai potensi yang dapat dikembangkan. Menurut H. Burton dan Leo J. Brucker, Supervisi adalah teknik pelayanan yang tujuannya mempelajari dan memperbaiki secara bersama faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Maka dari uraian definisi-definisi tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa fungsi dari supervise adalah memajukan dan mengembangkan pengajaran sehingga proses belajar mengajar yang di lakukan oleh seorang guru berlangsung dengan baik dan efektif.
Dengan demikian hakekat supervisi adalah suatu aktivitas proses pembimbingan dari pihak atasan kepada para guru dan para personalia sekolah lainnya yang langsung menangani belajar para peserta didik, untuk memperbaiki situasi belajar mengajar agar para peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien dengan prestasi dan mutu belajar yang semakin meningkat. Sedangkan yang melakukan aktivitas supervisi disekolah tersebut adalah kepala sekolah (supervisor).
Nilai supervisi ini terletak pada perkembangan dan perbaikan situasi belajar mengajar yang direfleksikan pada perkembangan yang tercapai oleh peserta didik. Dan istilah pembimbingan di atas cenderung mengacu kepada usaha yang bersifat demokratis atau manusiawi yang tidak bersifat otoriter. Kemudian yang dimaksud sebagai pihak atasan, disamping dalam arti hierarki, akan tetapi jiga dalam arti kewenangan dan kompetensi dalam bidang supervisi. Memperbaiki situasi bekerja belajar mengajar secara efektif dan efisien tergantung makna didalamnya bekerja dan belajar secara berdisiplin, bertanggung jawab, dan memnuhi akuntabilitas.
B. Fungsi dan Tujuan Supervisi Pendidikan
Supervisor akan berfungsi, bila supervisor dipandang sebagai bagian atau oragan dari organisasi sekolah. Dan bila dipandang sebagai sesuatu yang ingin dicapai supervisi, maka hal itu merupakan tujuan dari supervisi. Maka fungsi dan tujuan supervisi sangat berhubungan dengan erat, dan keduanya menyangkut hal yang sama. Hal ini dibedakan agar informasi yang diberikan nanti menjadi lebih lengkap.
Fungsi supervisi dapat dibedakan menjadi dua bagian besar antara lain:
a. Fungsi utama ialah membantu sekolah yang sekaligus mewakili pemerintah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu mengembangkan potensi individu peserta didik.
b. Fungsi tambahan ialah membantu sekolah dalam membina para guru dan staf personalia agar ingin bekerja dan mengajar dengan baik dan dalam mengadakan kontak dengan masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat serta mempelopori kemajuan masyarakat sekitar.
Sesudah membahas fungsi-fungsi dari supervisi di atas, maka telah sampailah uraian ini pada tujuan supervisi. Tujuan supervisi ialah memperkembangkan situasi belajar dan belajar yang lebih baik dan efektif. Usaha perbaikan belajar dan mengajar ditujukan pada pencapaian tujuan akhir dari pendidikan yaitu, pembentukan pribadi anak yang utuh dan maksimal.
Secara nasional tujuan konkrit dari supervisi pendidikan antara lain:
1. Membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan.
2. Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar murid.
3. Membantu guru dalam menggunakan alat pelajaran modern, metode-metode dan sumber-sumber pengalaman belajar.
4. Membantu guru dalam menilai kemajuan murid-murid dan hasil pekerjaan guru itu sendiri.
5. Membantu guru-guru baru di sekolah sehingga mereka merasa gembira dengan tugas yang diperolehnya.
6. Membantu guru-guru agar waktu dan tenaganya tercurahkan sepenuhnya dengan baik dalam pembinaan sekolah.
C. Prinsip-prinsip Supervisi Pendidikan
Seorang kepala sekolah atau selaku pemimpin sekolah yang berfungsi sebagai supervisor. Dan dalam melaksanakan tugasnya idealnya bertumpu pada prinsip-prinsip supervisi yang sudah ditentukan. Supervisi merupakan bagian integral dari program pendidikan. Ia adalah jasa yang bersifat kooperatif dan mengikutsertakan, sehingga para guru hendaknya dapat dilibatkan seberapa dapat dalam pengembangan supervisi.

Berikut ini adalah beberapa prinsip pokok tentang supervisi antara lain:
a. Ilmiah yang mencakup unsure-unsur:
 Sistematika artinya dilaksanakan secara teratur, berencana dan kontinyu.
 Obyektif artinya data yang didapat pada observasi yang nyata dan buka tafiran pribadi.
 Menggunakan alat (instrument) yang dapat member informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar.
b. Demokratis, yaitu menjunjung tinggi asas musyawarah, memiliki jiwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup menerima pendapat orang lain.
c. Kooperatif, maksudnya ialah seluruh staf dapat bekerja bersama, menggembangkan usaha bersama dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.
d. Konstruktif, dan kreatif yaitu membina inisiatif guru serta mendorongnya untuk aktif menciptakan suasana dimana tiap orang merasa aman dan dapat menggunakan potensi-potensinya dengan baik dan maksimal.
Bahwa menjadi seorang supervisor tidak sedikit masalah yang dihadapi dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu dalam usaha memecahkan masalah-masalah ini hendaknya berpegang teguh pada pancasila yang merupakan falsafah bangsa dan prinsip asasi yang merupakan landasan utama dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai supervisor.
D. Teknik dan Model Supervisi Pendidikan
Menurut Prof. Dr. Sutisna Oteng, dalam bukunya memaparkan ada sejumlah teknik supervisi yang dipandang perlu dan bermanfaat untuk meransang dan mengarahkan perhatian para guru terhadap kurikulum dan pengajaran, untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang bertalian dengan mengajar dan belajar, dan untuk menganalisis kondisi-kondisi yang mengelilingi mengajar dan belajar. Dan berikut ini adalah teknik-teknik supervisi yang dipandang bermanfaat, antara lain:
1. Kunjungan kelas.
2. Pembicaraan individual.
3. Diskusi kelompok.
4. Demonstrasi mengajar.
5. Kunjungann kelas antar guru.
6. Pengembangan kurikulum.
7. Buletin Supervisi.
8. Perpustakaan professional.
9. Lokakarya, dan
10. Survey sekolah-masyarakat.
Adapun teknik yang diterapkan dalam memberikan supervisi kepada guru dapat dilakukan dengan pendekatan langsung (direktif), pendekatan tidak langsung (non direktif), dan pendekatan kolaboratif.
a. Teknik pendekatan langsung (direktif)
Pendekatan langsung maksudnya adalah pendekatan terhadap masalah dengan cara langsung. Supervisor atau kepala sekolah mengadakan supervisi secara langsung, prinsip yang dilakukan adalah menjelaskan, menyajikan, mengarahkan, member contoh dan menguatkan.
Teknik secara langsung ini bisa bersifat, 1) individual, seperti kunjungan kelas, observasi kelas, percakapan pribadi, intervensi, menyeleksi berbagai sumber yang digunakan untuk mengajar dan melihat cara dan hasil evaluasi; 2) kelompok, yaitu pendekatan yang dapat dilakukan dengan bentuk-bentuk rapat guru, panitia penyelenggaraan kegiatan sekolah, studi kelompok guru, dan workshop.
b. Teknik pendekatan tidak langsung (non direktif)
Teknik supervisi tidak langsung adalah pendekatan masalah pengajaran yang sifatnya tidak langsung menunjukan permasalahan, melainkan seorang guru bercerita mengemukakan permasalahan yang mereka alami. Supervisor atau kepala sekolah menyimpulkan permasalahan guru tersebut kemudian member bimbingan dan mengarahkan.
c. Teknik pendekatan kolaboratif
Teknik pendekatan kolaboratif adalah pendekatan yang dilakukan antara kepala sekolah dan guru bersama-sama bersepakat (consensus) untuk menetapkan struktur, proses, dan criteria dalam melaksanakan pembelajaran.
Sedangkan model supervisi adalah pola yang dilakukan oleh seorang supervisor untuk melakukan kegiatan supervisi. Pola supervisi berkembang sesuai dengan dinamika ilmu pengetahuan, yaitu:
1. Pola konvensional yaitu pola supervisi dimana seorang kepala sekolah menunjukan kekuasannya yang otoriter dan feudal. Perilaku yang dilakukan dalam supervisi adalah mengadakan inspeksi untuk mencari kesalahan dan menemukan kekurangan.
2. Pola supervisi klinis yaitu pola supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar melalui siklus yang sistematis, mulai dari perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif da cermat tentang penampilan mengajar dengan tujuan mengadakan perubahan secara ilmiah dan rasional.
E. Perilaku Supervisi Pendidikan
Perilaku supervisi pendidikan adalah supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah atau supervisor terkait dalam rangka meningkatkan kinerja guru untuk mencapai tujuan yang telah ditetukan. Ada dua kegiatan yang terdapat dalam supervisi, yaitu kegiatan pengumpulan data dan pembinaan. Kegiatan pengumpulan data adalah kegiatan supervisi untuk mengumpulkan bahan atau masalah yang dihadapi oleh para guru dalam proses belajar mengajar. Kegiatan pembinaan adalah tindak lanjut dari kegiatan pengumpulan data sehingga pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah berdasar atas data yang ditemukan dilapangan.
Dalam pelaksanan pengumulan data dan pembinaan seorang supervisor harus berpengang teguh pada prinsip-prinsip yang sudah ditentukan. Agar dalam pelaksanaan supervisi antara kepala sekolah dan para guru terjalin hubungan yang harmonis, dan harus bersifat obyektif, kooperatif, dan konstruktif sehingga diharapkan hal ini dapat menampung aspirasi da kebutuhan para guru dan staf personalia berkenaan dengan masalah-masalah yang mereka hadapi. Dan perilaku supervisi dapat dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, tergantung konteks yang terjadi dilapangan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa supervisi mempunyai tujuan yang jelas dan sangat baik yaitu membimbing dan membantu kesulitan para guru dalam mengarajar dan belajar agar dapat tercapainya tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien pada khusunya dan peningkatan kualitas mutu pendidikan pada umumnya. Dan dalam pelaksanan supervisi maka harus berpengang teguh pada prinsip-prinsip yang sudah ditentukan.
Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah sebaiknya tidak hanya kepada para guru saja, namu hendaknya kepada seluruh elemen sekolah yang disertai tugas-tugas tertentu seperti bagian, administrasi tata usaha, perpustakaan, laboratorium, ekstra kurikuler dan bagian tugas lainnya. Sehingga dalam kenyataannya supervisi tidak hanya dijadikan sesuatu aktifitas kelengkapan atau penyempurnaan struktural oraganisasi sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

• Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999, Jakarta, Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sekolah/Madrasah, Materi Pelatihan Calon Kepala Sekolah/Madrasah, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
• Sahertian. Piet. A. dan Mataheru. Frans, 1981, Surabaya, Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, USAHA NASIONAL.
• Soetopo. Hendiyat dan Soemanto. Wasty, 1988, Jakarta, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan, PT BINA AKSARA.
• Masngud, SULUH, Vol. 3 No.1 Januari-April 2010, Supervisi Pendidikan, Jurnal Pendidikan Islam.
• Sutisna. Oteng, 1989, Bandung, Administrasi Pendidikan (Dasar Teoritis Untuk Praktek Profesional), ANGKASA.
• H.A.R. Tilaar, 2002, Jakarta, Memebenahi Pendidikan Nasional, Rineka Cipta.

Iklan
Categories: Uncategorized | Tag: , , , | Tinggalkan komentar

KONSEP PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA; ALTERNATIF SEBAGAI LANDASAN MEWUJUDKAN CITA-CITA PENDIDIKAN INDONESIA YANG HUMANIS


Ki Hadjar Dewantara merupakan tokoh pendidikan nasional, yang perjuangannya dalam dunia pendidikan sangat bermakna bagi kemerdekaan Bangsa Indonesia. Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Lahir dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Beliau berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, disaat itu beliau berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, beliau tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Dengan perjuangan jasa-jasa beliau dulu yang sangat hebat memperjuangkan pendidikan yang merata untuk semua rakyat dan humanis, maka agar untuk mengenang perjuangan beliau yang gigih kemudian kelahirannya beliau dijadikan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang biasa kita peringati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya. Hal ini telah menjadi momentum spesial untuk memperingatkan kepada segenap masyarakat negeri akan pentingnya arti dan esensi pendidikan bagi anak negeri yang sangat kaya ini.
Cermin Pendidikan di Indonesia.
Pada tahun 2003, telah dilahirkan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional melalui UU No. 20 tahun 2003 yang menggantikan UU No. 2 tahun 1989. Tersurat jelas dalam UU tersebut bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Ironinya, bahwa pendidikan pada saat ini telah bergeser dari apa yang di amanatkan dalam UU Sistem Pendidikan Nasional, mengapa demikian? Karena pendidikan sekarang ini sudah menjadi sebuah lahan industri baru yang baru. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis dan sebagai tempat pengembangan potensi-potensi manusia. Sehingga hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai pelajaran (komersialisasi pendidikan). Belum lagi biaya pendidikan sekarang semakin tahun semakin mahal saja, hal tersebut diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar yang layak dan murah. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan banyak tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat miskin yang tidak mampu semakin terpuruk dan sulit untuk mengakses pendidikan. Karena pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang oleh oknum pemerintah sebagai bentuk dan upaya membangun pemberontakan.
Sementara di berbagai daerah, pendidikan pun masih berada dalam kondisi keprihatinan. Mulai dari kekurangan tenaga pengajar, fasilitas pendidikan sampai membuat sukarnya masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup. Pada beberapa wilayah, banyak anak-anak yang memiliki keinginan untuk bersekolah, namun mereka harus rela membantu keluarganya untuk mencukupi kebutuhan hidup untuk makan, beli pakaian, dan lain-lain, contohnya saja dapat kita lihat di perempatan-perempatan jalan kota banyak anak-anak kecil yang sewajarnya masih bersenang-senang beramain dengan teman sebayanya dan belajar, harus berganti profesi menajdi peminta-minta atau pengamen di jalanan. Sungguh sangat tidak manusiawi dan ironinya pemerintahpun masih cuek-cuek saja dengan realitas seperti itu. Artinya, bahwa oknum pemerintahan SBY-Budiono telah gagal untuk mencapai kesejahteraan rakyat dan mewujudkan tujuan pendidikan. Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya. Sedangkan kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini memang dapat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas, kreatif dan terampil. Pembunuhan kreatifitas ini disebabkan pula karena paradigma pemerintah Indonesia yang mengarahkan masyarakatnya pada penciptaan tenaga kerja untuk pemenuhan kebutuhan industri yang sedang gencar-gencarnya ditumbuh suburkan di Indonesia.
Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderung mengeksploitasi pemikiran peserta didik. Indikator yang dipergunakanpun cenderung menggunakan indikator kepintaran (kognitif), sehingga hanya keberhasilan belajar dilihat dari nilai di dalam rapor maupun ijasah tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun bertahan di tengah gencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini. Menurut Prof. Dr. Sutrisno dalam perkulihan filsafat pendidikan pernah menyampaikan bahwa kemampuan pengetahuan kognitif (hard skill) dan kemampuan ketrampilan hidup (soft skill) itu lebih banyak berguna kemampuan soft skill nya, jika dipresentasekan maka hard skill hanya berpengaruh 20% dan 80% nya adalah soft skill. Jika saya meminjam kata-kata dari (Martin Luther King) “Aku tidak peduli berapa lama aku akan hidup dalam sistem ini. Aku akan tidak pernah menerimanya. Aku akan perangi sistem ini sampai mati.” Jadi sudah menjadi keniscayaan bagi dunia pendidikan harus merekonstruksi sistem pendidikan nasional dan kurikulumnya yang sudah gagal dan tidak relevan dengan dunia sekarang. Menuju pada sitem pendidikan nasional yang representatif dengan kebutuhan masyarakat dan tekanan perkembangan zaman globalisasi sekarang ini.
Sorot Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Dalam bentuk perkulihan apapun yang pembahasan tentang pendidikan penulis belum pernah menjumpai pembahasan mengenai konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara. Kabanyakan yang dipakai adalah konsep pendidikan ala barat, Padahal kita semua mengetahui bahwa beliau adalah bapak pendidikan nasional, yang mana beliau adalah seorang pemikir pendidikan asli Indonesia yang telah memperjuangkan pendidikan untuk rakyat dan beliau juga lebih mengetahui harus bagaimana konsep pendidikan untuk Indonesia itu sendiri yang sesuai dengan konteks realita di Indonesia.
Dalam berbagai tulisan tentang pendidikan yang ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang mendidik itu sendiri. Menurut Ki Hajar Dewantara mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi), yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Jadi sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humanis). Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Adapun pemikiran beliau melihat pendidikan dari 2 (dua) sudut pandang antara lain:
Dari sudut pandang psikologis, menurut beliau bahwa manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya (humanisasi) ini harus menuntut pengembangan semua daya secara seimbang (proposional). Karena jika pengembangan yang hanya menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidak-utuhan perkembangan sebagai manusia (dehumanisasi). Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan pengembangan olah rasa dan karsa. Jika hal ini berlanjut terus maka akan menjadikan manusia kurang humanis atau manusiawi.
Dari titik pandang sosio-anthropologis, menurutnya bahwa kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda. Dalam masalah kebudayaan berlaku pepatah:”Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya.” Maka manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya.
Ki Hajar Dewantara sendiri dengan mengubah namanya ingin menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu maksudnya dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria. Yang mana jika sikap pendidikan kita seperti ini maka dapat mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara (nasionalisme). Bagi Ki Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa. Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar.
Jadi sudah saatnya kita kembali pada esensi yang diperjuangkan oleh bapak pendidikan nasional kita. Bahwa idealnya pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan. Pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri, dan setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya. Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain.
Metode yang yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand”.
Sedangkan seorang guru yang efektif harus memiliki keunggulan dalam mengajar (paedagogik), sikap yang menjadi teladan bagi peserta didik (personal), hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah, dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain seperti orang tua, komite sekolah, pihak terkait (sosial), segi administrasi sebagai guru dan sikap profesionalitasnya (profesional). Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka tidak kalah penting bahwa upaua membangun suatu etos kerja yang positif sangat diperlukan yaitu, seperti menjunjung tinggi pekerjaan, menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga penampilan (performance) seorang profesional baik dari segi fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator.
Singkatnya, bahwa dalam dunia pendidikan perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik. Dan pendidikan harus dapat menjadi wadah yang bukan hanya mengembangkan kemampuan daya cipta (kognitif) namun secara karsa (afektif) dan karya (psikomotorik) harus proposional. Mari bersama-sama kita sebagai calon pendidik harus terus memperjuangkan pedidikan Indonesia agar lebih memanusiakan manusia, membudayakan bangsa, dan mengindonesiakan nusantara. Agar hari pendidikan nasioanal bukan hanya sekedar sebuah peringatan (efouria) yang tidak mempunyai nilai kemajuan dan kejayaan untuk pendidikan Indonesia tercinta. Sudah saatnya Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dengan sebuah kesejahteraan sejati bagi seluruh masyarakat Indonesia raya.

Categories: Uncategorized | Tag: , , , , | Tinggalkan komentar

Bencana Alam Adalah Manifestasi Kekuasaan Allah SWT


macam-macam bencana alam

bencana alam manifestasi kekuasaan Allah swt


Fenomena alam yang terjadi di Indonesia begitu banyak dan berangsur-angsur hingga sekarang. Itu tidaklah terjadi begitu saja yang seakan-akan tidak membawa pesan atau peringatan. Dimulai dari bencana tsunami, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, dan sampai kematian massal. Melainkan kejadian-kejadian alam yang seperti ini adalah sebuah pesan peringatan dari Allah SWT sang pencipta alam semesta ini. Tapi ironinya manusia tidak pernah berfikir apa pesan dari semua ini yang dibawa oleh bencana-bencana yang terjadi di sekitar kita.
Manusia terlalu hedonis dengan kejadian bencana seperti itu dan menganggap bahwa itu fenomena alam saja yang tak mempunyai arti karena bumi kita sudah tua. Inilah dampak dari arus globalisasi yang begitu gencang, sehingga membuat orang-orang sibuk dengan duniawinya dan berlomba-lomba mencari kebahagian dan kekayaan untuk dirinya sendiri. Sehingga dampak ini membuat orang buta akan kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai umat muslim. Benar, apa yang dikatakan uztads Jerpri dalam ceramahnya “Ketika kita disms sama pacar kita, maka kita akan bergegas dengan cepat membalas sms itu, tapi ketika kita berkali-kali disms dari Allah SWT dengan berbagai bentuk peringatan bencana dan lain-lain kita lama membalas sms itu bahkan kita seakan-akan tidak merasa disms oleh Allah SWT untuk kembali ke jalan yang lurus dan bertaubat”.
Doktrin dan paradigma seperti ini lah yang harus kita luruskan dan kita ganti dengan doktrin yang lebih baik agar kita lebih dapat mencermati fenomena alam yang terjadi di sekitar kita. Dan harapannya nanti kita semua dapat lebih tekun lagi untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta alam semesta yaitu Allah SWT. Karena jika kita cermati kejadian bencana yang sering terjadi di Negara kita adalah sebuah peringatan yang membawa pesan kepada manusia yang masih hidup untuk kembali ke jalan yang lurus dengan kita bertaubat nasuha secepatnya.
Karena fenomena-fenomena alam atau bencana itu termasuk jenis kiamat sughro (kiamat kecil). Sambil refleksi kezaman Nabi Nuh a.s. Allah SWT telah menurunkan azab yang sangat pedih dan peringatan kepada umat Nabi Nuh yang tidak taat dan beriman kepada-Nya. Dengan bencana banjir yang begitu dasyat sampai tidak ada yang sanggup menghindar dari bencana itu. Kecuali umat Nabi Nuh a.s. selamat karena kekuasaan Allah SWT melindungi umat Nabi Nuh a.s. yang taat dan beriman dari azab yang mengerikan itu.
Begitu mengerikan jika Allah SWT telah menunjukan kekuasaan dan kebesaran dengan memberikan azab, bencana-bencana yang terjadi di alam semesta ini sebagai peringatan kepada umat-umat muslin yang tidak taat dan patuh kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an surat Al-Insaan yang pokok isinya membahas tentang penciptaan manusia, petunjuk-petunjuk untuk mencapai kehidupan yang sempurna dengan menempuh jalan yang lurus, memenuhi nazar, memberi makan orang miskin dan anak yatim piatu, mengerjakan sholat, bersabar, dan sampai takut kepada hari kiamat. Penulis mengambil ayat 10 yang artinya “Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan”, maksudnya bahwa ketika Allah SWT telah menurunkan azab kepada orang-orang yang tidak taat dan beriman kepada-Nya, orang-orang itu panik, binggung dan dirasa penuh kesulitan untuk menghindar dari azab itu.
Dalam rukun iman yang ke- 5 (lima), yaitu yang berbunyi “Iman Kepada Hari Akhir”, maksudnya bahwa ketika kita umat muslim yang beriman maka harus percaya kepada hari akhir atau sering kita kenal dengan hari kiamat. Ini bukan lagi tawaran buat kita harus menyakini atau tidak, tapi ini mutlak dan harus kita yakini karena kita adalah seorang mukmin. Dalam Al-Qur’an surat Al-Qiyaamah ayat 1 yang artinya “Aku Bersumpah Dengan Hari Kiamat”, sangat jelas bahwa kepastian terjadinya hari kiamat itu ada dan akan terjadi. Hari Kiamat adalah peristiwa di mana alam semesta beserta isinya hancur luluh yang membunuh semua makhluk di dalamnya tanpa terkecuali. Hari kiamat ditandai dengan bunyi terompet sangkakala oleh Malaikat Israfil atas perintah dari Allah SWT.
Jadi marilah kita semua bertaubat dan muhasabah agar kita dapat lebih baik lagi dalam menjalani kehidupan di dunia yang singkat dengan banyak beribadah, bertaqwa, taat, beriman, melaksanakan perintah Allah SWT, menjauhi larangan Allah SWT dan sebisa mungkin untuk kita dekat dengan Allah SWT. Sehingga kita akan di letakan di tempat yang begitu indah dan mulia disisi Allah SWT. Karena dalam janji Allah SWT barang siapa yang hidup di dunia banyak berbuat amal kebaikan dan menjalankan semua perintah Allah SWT dan mengikuti ajaran yang disampaikan oleh rosul kita Nabi Muhammad SAW maka kita akan diberi hadiah surga Allah SWT. Dan kita selalu berdo’a meminta petunjuk kepada-Nya agar kita termasuk umat yang tidak buta dan nantinya dapat menghuni surga Allah SWT, bukan menjadi umat yang buta akan kewajibannya sebagai insan mukmin. Amin..

Categories: Uncategorized | Tag: , | 1 Komentar

Sistem Pendidikan Nasional Yang Diselewengkan


Sitem Pendidikan Nasionsl
Oleh: Chu_enk Alfazzaeni

A. Pendahuluan
Berbicara tentang kesejahteraan dan kemajuan negara maka tidak bisa lepas dari yang namanya pendidikan, segala bentuk pembagunan dalam sebuah negara haruslah memiliki keilmuan tergantung dengan bidangnya masing-masing. Ketika jepang di bom oleh sekutu yang pertam kali ditanyakan bukanlah berapa jumlah pasukan yang tersisa, tapi berepa jumlah guru yang tersisa. Ini membuktikan betapa pentingnya sebuah pendidikan yang akan dibebankan kepada seorang guru, yang mana dengan adanya seorang guru akan mampu menciptakan tentara-tentara baru,pamimpin-pemimpin baru untuk negara jepang.
Namun, apalah jadinya ketika pendidikan hari ini hanya mampu diakses oleh segelintir orang, yang mana pendidikan hanya buat orang-oarang yang berduit dan tidak pernah menghiraukan orang-orang miskin, apa bedanya dengan zaman kolonial yang mana hanya keturunan kaum priyai yang mampu mengakses dunia pendidikan.
B. Esensi Dasar Pendidikan
Esensi dasar sebuah pendidikan adalah pendidikan yang mampu menciptakn humanisasi bukan dehumanisasi.yaitu, menciptakan kepribadian seseorang yang bisa menghargai orang lain, dan membebaskan sebuah penindasan dalam diri manusia itu sendiri. Bukan menciptakan seseorang yang bersifat egoisme yang tidak mau tahu dengan realitas yang terjadi. Apakah pendidikan sekarang sudah menciptakan esensi dasar pendidikan itu sendiri..?? Saya rasa belum karena pendidikan sekarang yang kita kenal adalah gaya bank,, yang mana murid sebagai obyek investasi dan sebagai sumber deposito potensial yang mana kelak dapat mendatangkan hasil yang berlipat ganda. Mereka tidak berbeda dengan komoditi yang lazim kita kenal. Investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga kemasyarakatan mapan dan berkuasa, sedangkan depositornya adalah berupa ilmu pengetahuan yang akan diajarkan kepada anak didik. Anak didikpun lantas diperlakukan sebagai `”bejana kosong” yang siap diisi, sebagai sarana penanaman ”modal ilmu pengetahuan” yang akan dipetik hasilnya kelak. Jadi, guru adalah subyek aktif, sedangkan murid adalah obyek pasif yang penurut, dan sebagai obyek ilmu pengetahuan yang tidak berkesadaran. Pendidikan akhirnya bersifat negatif dimana guru memberi imformasi yang harus ditelan oleh murid, yang wajib diingat dan di hapalkan. Bila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, tersebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pada ayat 2 disebutkan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan dalam UU No. 20/2003 pasal 5, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus, warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus, warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus serta setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.
C.Pendidikan Dizaman Globalisasi
Setelah kita mengintip sedikit apa esensi dari pendidikan maka saatnya kita melihat bagaimana pendidikan kita di era globalisasi sekarang ini..? Di zaman globalisasi ini atau yang kita sebut dengan zaman yang modern dan penuh persaingan antar negara yang sangat ketat baik dibidang ekonomi, politik, sosial dan budaya bahkan dalam dunia pendidikan. Kita semua bisa sedikit bersyukur dan tersenyum karena dibatalkan UU BHP pada 31 Maret 2010 kemarin oleh MK (Mahkamah Konstitusi). Tapi apakah kita harus sampai disini perjuangan kita untuk mencapai pendidikan yang murah dan berkualitas..? Tidak kawan..!! Tugas kita masih banyak,,OK,,kita boleh bangga karena UU BHP sudah dibatalkan. Lantas apakah dengan dibatalkan UU BHP rakyat kecil akan dapat mengakses pendidikan. Kenyataanya begitu ironi dan menyedihkan karena masih banyak orang-orang yang mempunyai ekonomi lemah tidak dapat mengakases pendidikan karena pendidikan kita masih mahal. Ini tidak berbeda jauh dengan masa penjajahan dulu kawan. Dan diakui atau tidak bahwa sistem pendidikan kita masih mewarisi sistem pendidikan feodal atau kolonial yang mana hanya kaum-kaum yang berduit yang mampu untuk mengakses dunia pendidikan. Berapa juta orang yang tak mampu untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi hanya karena tidak memiliki dana yang memadai. Kesenjangan pendidikan yang semakin parah ini sampai membuat orang mengatakan bahwa rakyat miskin dilarang sekolah. Padahal semua warga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Bukankah majunya pendidikan juga akan menjadikan bangsa ini terpandang?. Anehnya banyak dari kalangan pemerhati, pelaku pendidikan, bahkan para wakil rakyat yang katanya siap menampung aspirasi rakya juga tidak mempersoalkan hal yang mendasar seperti ini.
Sangat memalukan bahwa pendidikan juga saat ini telah menjadi sebuah industri dan perdagangan. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai. Belum lagi diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk. Pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang sebagai upaya membangun pemberontakan.
Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini sangat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas dalam keilmuan dan membaca realitas. Dan begitu juga dengan UU 75 % yang mana mahasiswa akan digiring kedalam kampus, dalam artian kawan-kawan mahasiswa tidak akan megenal dunia luar, yang mana jika kawan-kawan dibentrokkan dengan ruang lingkup yang sempit maka akan tercipta juga yang namanya pemikiran yang sempit. Itulah pendidikan kita sekarang..apkah kita mau pendidikan kita ini terus berlanjut seperti ini?? Apakah anak cucu kita akan kita generasikan ke negara yang seperti ini?? Nasib bangsa ada pada kita semua dan itulah esensi dasar kita sebagai mahasiswa yang berintelektual. Maka sangat disayangkan seorang mahasiswa yang dikenal sebagai Agen Of Change namun tidak mengenal realitas yang ada, begitu ironinya jika sebagian dari kita masih mempunyai sifat hedonis terhadap realitas disekitar kita. Dan jangan bilang Negara bukan urusan kita yang sebagai jurusan imformasi, pendidikan, tehnik, sosiologi, kita lihat Che Gue Vara adalah seorang dokter namun dia tetap turun berjuang bahkan mempertaruhkan nyawa untuk negaranya yaitu Kuba.
Dan saya ucapkan selamat anda terpilih menjadi Seorang mhasiswa yang akan selalu di didik untuk kritis mengahadapi segala persoalan. Jangan biarkan sistem yang mengatur kita tapi kita yang mengatur sebuah sistem untuk kepentingan kita bersama. Dan kita ciptakan sistem yang baik, karena jika Bangsa yang akan maju pesat salah satunya harus mempunyai sistem yang baik didalamnya. Seperti kata-kata dari seorang Prof. Dr. Yusril mengatakan bahwa “sebaik-baiknya orang jika masuk dalam sistem yang buruk maka orang itu akan menjadi buruk, dan sebaliknya jika sejelek-jeleknya orang tersebut dan kemudian masuk dalam sistem yang baik maka orang tersebut akan menjadi baik”..

kembalikan Esensi pendidikan

Sistem Pendidikan Nasional Yang Diselewengkan

Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Kemerdekaan Seperti Angin


Kemarin pada tanggal 17 Agustus 2010 telah diperingatinya HUT kemerdekaan Indonesia yang ke-65. semua orang dari balita, anak-anak, orang dewasa, ibi-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek, kakek-kakek, pengemis dan pemulung semuanya ikut memperingati hari kejadian Indonesia. jika kita melihat belakang sejarah sekian lama rakyat dan para pahlawan kita dulu untuk memperjuangkan Indonesia dari tanggan para penjajah yang telah menindas sekitar kurang lebih 350 tahun, begitu lama rasanya kalau kita rasakan dijajah selama itu. kesedihan pun sudah tidak bisa dirasakan lagi karena terlalu sering merasakan penindasan. begitu kuat rakyat Indonesia pada masa itu, keberanian untuk merebut kekuasaan imprealisme dan keteguhan untuk mempertahankan tanah air tercinta. sungguh kita patut untuk ajungkan ibu jari kepada para rakyat dan pahlawan kita. sekarang bangsa Indonesia sudah merdeka selama 65 tahun, jika ini kita analogikan dengan manusia seperti kita umur 65 tahun sudah dewasa. jika manusia sudah dewasa itu sudah bisa hidup mandiri dan menjaga diri akan ancaman dari orang lain, dan mengetahui dimana yang benar dan salah. sekarang kita sudah begitu lama merasakan kemerdekaan tapi hak asasi untuk setiap rakyat Indonesia belum semua didapatkan oleh rakyat-rakyat kecil. dan penindasan masih dirasakan dalam bidang pendidikan, sosial, politik, ekonomi, dan budaya. orang miskin dilarang sekolah begitu ironi slogan tersebut menjadi pedomana pendidikan indonesia. seharusnya semua rakyat Indonesia baik miskin maupun kaya mempunyai hak dan peran yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan yang seperti redaksi UUD 1945 yang berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa. tidak hanya dalam bidang pendidikan bahkan bidang ekonomi, politik dan sosial budaya. begitu sedih para pahlawan jika melihat realitas yang seperti sekarang ini. hari kemerdekan seakan-akan melintas begitu saja tidak arti yang berkesan bagi para rakyat miskin. apakah ini semua yang dicita-citakan oleh para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. ayo kita bangkit bersama untuk memwujudkan cita-cita pahlawan yang direbut oleh kaum elite politik yang tidak berpihak terhadap rakyat miskin. kesatuan rakyat dapat mengalahkan semua penindasan yang dilakukan oleh para elite politik yang tidak bertanggung jawab. Salam Perjuangan…!!!

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

RESUME PENDIDIKAN NILAI UNTUK ANAK USIA 8 – 14 TAHUN


PENDIDIKAN NILAI UNTUK ANAK USIA 8 – 14 TAHUN
Oleh: Sugeng Fitri Aji
Banyak sekali anak – anak yang menjadi korban kekerasan dan semakin banyaknya masalah – masalah yang timbul akibat kurangnya penekanan terhadap pendidikan nilai, maka dibuatlah LVEP yang menjawab semua itu.
Living Values an Educational Program adalah program pendidikan nilai, program ini menyajikan pengalaman atau metodologi yang bias digunakan dalam mengembangkan atau mengeksplorasi nilai – nilai pada anak atau remaja. Menurut laporan murid – murid sangat menanggapi LVEP dan setelah belajar dengan LVEP murid lebih percaya diri, mengahrgai orang lain dan menunjukkan keterampilan social dan pribadi yang positif dan kooperatif.
Tujuan – Tujuan LVEP:
 Membantu individu memikirkan dan merefleksikan nilai – nilai.
 Untuk memperdalam pemahaman, motivasi, dan tanggung jawab saat menentukan pilihan.
 Untuk menginspirasi individu memilih niliai –nilai pribadi, sosial, moral dan spiritual dan menyadari metode yang digunakan untuk mengembangkannya dan memperdalamnya.
 Untuk mendorong pengajar memendang pendidikan sebagai sarana memberikan filsafat – filsafat hidup kepada para murid.
Dengan LVEP membantu para mrid dalam menggunakan kreativitas mereka dan bakat – bakat mereka yang akan membuat mereka lebih senang dan menarik hati, sehingga dalam sebuah pembelajaran yang disesuaikan dengan kebudayaan sekitar akan lebih menginspirasi para murid.LVEP dimulai tahun 1995 oleh Brahma Kumaris dalam rangka ulang tahun PBB yang ke – 50. Proyek ini terfokus pada dua belas nilai universal. Dari hal tersebut maka dibuatlah bukju Living Values: A Guide Book.
Kemudian muncul LVEI (Living Values: an Education Initiative) pada tahun 1996 untuk mengidentifikasi kebutuhan murid dalam penglaman nilai – nilai, dan bagaimana para pengajar bias mengintegrasikan nilai – nilai. Kemudian Living Values Educators Kit pun sipa digunakan pada Februari 1997, danLiving Values telah mulai dilaksanakan.
LVEP dirancang untuk memotivasi murid dan mengajak mereka untuk memikirkan diri sendiri, orang lain, dunia dan nilai – nilai tang terintegrasi. Tujuan untuk merasakan pengalaman di dalam diri sendiri dan membangun sumber daya diri dan untuk memperkuat dan memancing potensi, kreativitas, dan bakat – bakat tiap murid. Latihan tersebut untuk membangun keterampilan menghargai diri, komunikasi social yang positif, berpikir kritis, dan menyatakan diri lewat seni dan drama.
Tiga asumsi dasar LVEP:
1. Mengajarkan penghormatan dan penghargaan.
2. Murid memperhatikan nilai –nilai dan mampu menciptakan dan belajar dengan positif.
3. Murid berjuan dalam suasana berdasarkan nilai dalam lingkungan yang positif.
Selama pelatihan para pendidik dan anak didik ikut berpartisipasi dalam berbagai aktivitas nilai yang disesuaikan dengan keadaan mereka, yang kemudian dengan model teoritis dan landasan yang mendasari aktivitas nilai yang dipresentasikan setelah guru mendiskusikan ide – ide mereka tentang praktik mengajar yang baik kemudian pelatihan beralih ke keterampilan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan nilai – nilai tersebut.
Dengan mendengar tidaklah cukup bagi anak agar bisa benar – benar bias maka anak harus mengalaminya dalam berbagai tingkat dan menjadikan nilai tersebut bagian dari diri mereka. Dibutuhkan pula keterampilan sosial agar bisa menggunakan nilai tersebut dalam kegiatan sehari – hari. Dan sangat penting juga mereka menjelajahi topik keadilan dan seseorang yang bias dijadikan contoh.Diletakkan pada setiap awal pelajaran yang ada. Butir tersebut berisi definisi –definisi nilai dan memberikan konsep abstrak untuk direnungkan.Dalam beberapa unit murid disuruh membayangkan dunia yang penuh dengan rasa damai. Dengan visualisasi maka nilai akan tersa lebih relevan karena murid akan mencari tempat di dalam diri mereka sendiri untuk mengetahui kualitas nilai yang ada dalam diri mereka.
Keheningan merupakan sesuatu hal yang dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dinikmati. Akan tetapi itu merupakan suatu hal yang dapat dinuakan untuk mematuhi permintaan orang dewasa. Latihan tersebut akan membantu murid lebih tenang , puas diri, dan lebih baik dalam berkonsentrasi.Anak –anak didorong untuk berefleksi tentang nilai dan mengalami nilai tersebut dengan artistic dan kreatif dalam kesenian.Aktivitas ini menyuruh anak agar mengeksplorasi nilai dalam kaitannya dengan diri mereka sendiri atau membangun keterampilan dengan nilai.
Dalam unit ini para guru dimnita bias mengajarkan cara menyelesaikan masalah – masalah sesuai dengan nilai.Para murid didorong untuk melihat akibat dari perbuatan mereka masing – masing pada orang lain dan bagaiman mereka bisa membuat sebuah perbedaan.Dalam unit toleransi, kesederhanaan, dan persatuan mengetengahkan elemen tanggung jawab social yang menarik dan menyenangkan. Dalam unit kesederhanaan juga terdapat beberapa saran untuk menghargai dan melestarikan bumi kita.
Dalam buku ini memancing guru agar bisa berkreativitas dengan nilai yang disesuaikan dengan kebudayaan disekitar kita, mungkin dengan menggunakan lagu daerah atau kisah – kisah yang dapat dimasukkan dalam nilai.Dalam beberapa hal guru biasanya memulai dengan di dalam kelas saja, akan tetapi ada juga sekolah yang mengharuskan bahwa aktivitas nilai dilakukan oleh semua isi sekolah, bahkan dapat juga mengikut sertakan orang tua didalamnya. Dan dalam pemberian nilai nilai dalam pelajaran bisa sesuai dengan yang direkomendasikan atau sesuai kebutuhan.
Bila satu sekolah memulai unit nilai secara bersamaan maka kegiatan yang bisa dilakukan adalah kegiatan singkat bersama – sama. Dan dalam pemakaian lagu gunakan lagu – lagu yang disenangi yang sesuai dengan nilai yang sedang dipelajari.Karena unit kedamaian adlah unit yang paling sering mendapatkan perhatian dari para murid bahkan murid yang suka berkelahipun juga memperhatikannya. Dan unit kedamaian dapat mengurangi kenakalan pada anak – anak yang kurang termotivasi. Dan unit pengahargaan merupakan unit yang menyentuh perasaan. Kemudian dari kedua unit ini akan selalu digunakan dalam unit – unit berikutnya.
Urutan yang Disarankan untuk Unit – Unit Nilai.
1. Kedamaian
2. Penghargaan
3. Cinta
4. Toleransi
5. Kebahagiaan
6. Tanggung Jawab
7. Kerja Sama
8. Kerendahan Hati
9. Kejujuran
10. Kesederhanaan
11. Kebebasan
12. Persatuan
Dalam hal ini dituntut agar para pengajar lebih berkreasi dalam mengajarkan nilai – nilai, karena kreativitas sangat mendukung dalam pelajaran nilai. Kalau setiap pelajaran gurunya berbeda maka para guru bisa mengintegrasikan pelajarannya nilainya agar tidak saling bertubrukan.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENDIDIKAN di INDONESIA SEHARGA EMAS ?


Pendidikan di Indonesia Seharga emas ?
Oleh: Sugeng Fitri Aji (chu_enk)
Pendidikan kini menjadi sebuah lembaga pendidikan bagi orang-orang yang mempunyai uang saja, inilah kenyataan yang harus dihadapi setiap orang miskin, yang sadar bahwa dirinya adalah kaum yang dilarang sekolah. Berbicara tentang kesejahteraan dan kemajuan negara maka tidak bisa lepas dari yang namanya pendidikan, segala bentuk pembagunan dalam sebuah negara haruslah memiliki keilmuan tergantung dengan bidangnya masing-masing. Melihat kebelankang ketika jepang di BOM oleh sekutu yang pertama kali ditanyakan bukanlah berapa jumlah pasukan yang tersisa, tapi berapa jumlah guru yang tersisa. Ini membuktikan betapa pentingnya sebuah pendidikan yang akan dibebankan kepada seorang guru, yang mana dengan adanya seorang guru akan mampu menciptakan tentara-tentara baru, pemimpin-pemimpin baru untuk negara jepang.
Berangkat dari kegelisahan penulis yang melihat realitas bahwasanya pendidikan di Indonesia masih belum sesuai dengan apa yang di cita-citakan oleh UUD 1945 yang mana “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Indonesia”. Dan esensi dasar sebuah pendidikan adalah pendidikan yang mampu menciptakn humanisasi bukan dehumanisasi yaitu: menciptakan kepribadian seseorang yang bisa menghargai orang lain, dan membebaskan sebuah penindasan dalam diri manusia itu sendiri. Bukan menciptakn seseorang yang bersifat egoisme yang tidak mau tau dengan realitas yang terjadi. Ini semua bersebrangan dengan implementasinya atau realitasnya dalam tataran masyarakat. Yang mana ketika kita lihat masih ada orang-orang miskin yang tidak bisa mengakses pendidikan, di karenakan biaya pendidikan sekarang mahal. Kawan-kawan bisa lihat sendiri di pertigaan yang akan masuk UIN SUKA maupun di perempatan-perempatan jalan di kota. Yang mana bisa kita lihat sesosok anak kecil yang imut, polos, harusnya belajar, bermain dengan teman-teman, sekolah, tapi apa? Ironis sekali, bahwa keseharian anak-anak itu adalah bekerja menjual koran bahkan sampai ada yang minta-minta (pengemis). Siapa yang salah ketika kita melihat hal seperti itu? Apakah orang tua yang tidak mampu membiayai anak sekolah? Atau, malah pemerintah yang tidak menjalankan hakekat atau esensi pendidikan? Terus kemana dana APBN 20% untuk pendidikan?.
Labih tragis lagi ketika ada pengusuran tempat tinggal orang-orang miskin yang ada di kota, alasannya karena akan ada pembangunan MAL atau gedung pencakar langit. Ini semua tidak lah manusiawi yang mana perekonomian sudah rendah, malah ditambah penderitaan lagi sampai mereka kehilangan tempat tinggalnya. Begitu menyedihkan hal ini terjadi di bumi pertiwi kita. Kalo ada pepatah mengatakan “Udah Jatuh Ketimpa Tangga” itu yang dialami mereka ketika terjadi penggusuran. Penggusuran yang berdampak pada tempat tinggal saja melainkan juga terabaikannya hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Ini seakan-akan negara telah memusnahkan ekonomi mereka. Sudah terbuang dari lembaga pendidikan kemudian tersiksa karena dipaksa untuk melacur, ini telah mendongkrak angka kemiskinan dalam jumlah yang fantastis. Andil berbagai pihak sangat besar, untuk kasus penggusuran diatas, tentu pemerintahan kota yang bertanggung jawab. Kebijakan penggusuran yang bertujuan untuk mengeliminasi tingkat kepadatan ternyata membawa implikasi pada anak didik. Pemerintah menjadi pihak yang tidak pernah bisa memantau efek kebijakan yang diambilnya terutama yang terkait erat dengan pendidikan. Bukan saja pemerintah, bahkan anggota dewan kerapkali juga “Tuli” terhadap persoalan pendidiakn. Apakah ini semua pantas terjadi ketika di Indonesia melihat bumi pertiwi kita yang kaya akan SDA?.
Tanggal 2 Mei 2010 mempunyai arti penting dalam kancah pendidiakan nasional di Indonesia. Ketika kita mendengar tanggal 2 Mei maka pikiran kita teringat pada sosok tokoh pendidikan Bapak Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar yang bernama asli R.M. Suwardi Suryaningrat merupakan tokoh pendidikan nasional. ing ngarso sung tulodo, (di depan memberi teladan). ing madyo mangun karso, (di tengah membangun karya). tut wuri handayani, (di belakang memberi dorongan). Itulah tiga kalimat dari ajaran seorang ningrat Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang kita kenal Ki Hadjar Dewantara. Pelopor Perguruan Taman Siswa, untuk menyediakan lembaga pendidikan bagi orang-orang miskin pribumi. Ini kemudian diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional dan hari lahirnya 2 Mei (1889) diabadikan menjadi Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah pada tahun 1959. Yang besok tanggal 2 Mei 2010 kalau kita hitung sudah menginjak tahun ke-51 dari ditetapkannya HARDIKNAS oleh pemerintah pada tahun 1959. Pendidikan Indonesia tercinta ini sudah hampir masuk usia yang tua. Tapi belumlah benar-benar sesuai dengan tujuan pendidikan itu. Tujuan untuk menuntut ilmu, menanbah pengetahuan, meningkatkan intelektualitas untuk mengembangkan bagi diri sendiri, keluarga dan juga masyarakat. Ilmu yang bermanfaat yang diaplikasikan untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan peran dan spesialisnya masing-masing individu. Yang diharapkan dari ilmu bermanfaat itu adalah terciptanya Bangsa yang cerdas berpendidikan sehingga dapat memajukan kehidupan bangsa Indonesia ini yang sesuai dengan amanat UUD.
Namun, apalah yang terjadi saat ini kawan-kawan. Masih banyak orang-orang miskin yang tidak dapat mengakses pendidikan yang nantinya akan bermanfaat untuk untuk dirinya sendiri dan kemajuan bangsa Indonesia tercinta ini. Sekarang banyak sekolah SD, SMP, SMA yang bertaraf Internasional dan fasilitasnya sangat memadai untuk perkembangan anak didik. Tapi sekolah itu hanya untuk orang-orang berduit banyak karena biaya sekolahnya mahal. Contohnya, salah satu sekolah taraf Internasional di Yogyakarta yang kata orang-orang biaya per-Bulan sampai Rp. 600.000. Ini akan berdampak pada pendidikan hanya dapat diakses segelintir orang. Yang mana pendidiakan hanya untuk orang-orang berduit (kaya), tidak mempedulikan orang miskin. Apa bedanya dengan pendidikan pada masa kolonial, yang mana pada masa itu system yang digunakan oleh pemerintah kolonial adalah sistem pendidikan yang bersifat diskriminatif. Artinya hanya orang-orang keturunan saja yang dapat bersekolah, adapun dari pribumi yang dapat bersekolah namun pribumi yang berasal dari golongan priyayi. Apakah sistem pendidiakan sekarang ini sudah mengadopsi sistem pemerintahan kolonial?. Begitu ironi ketika Negara kita mengadopsi sistem pemerintahan kolonial. Karena kita seperti mengotori dan mengabaikan Amanat UUD dan sejarah perjuangan Bapak pendidiakan kita Bapak Ki Hadjar Dewantara yang dulu berjuang untuk memperjuangkan pendidikan untuk semua rakyat Indonesia untuk dapat mengakses pendidiakan.
Zaman dimana sekolah murah tampaknya memang sudah usai. Bahkan keingginan tuk menjadi seorang guru kini terasa sebagai sesuatu yang tidak realistis. Guru memang profesi yang mulia dipapan nama, tapi sengsara dalam kenyataan. Hanya beberapa gelintir sekolah yang memberikan imbalan yang “manusiawi” pada guru. Jika diusut lebih jauh, komersialisai pendidkan ini bersinggung erat dengan perubahan tatanan serta pergeseran formasi kelas sosial yang berlangsung saat ini, formasi sosial yang meluluhlantahkan struktur dan sistem sosial yang lama. Termasuk kedalam dunia pendidiakan.Hal ini yang harus menjadi tugas kita sebagai kaum muda intelektual untuk terus memantau pendidikan Indonesia dan nantinya akan menjadi penerus bangsa Indonesia tercinta ini. Kenapa hanya sebab kita inggin mengakses dunia pendidikan harus membayar mahal? Bahkan belum jelas kualitas yang diberiakan oleh lembaga pendidiakan saat ini untuk masa depan kita ketika lulus sekolah, apakah hanya akan mencetak pengangguran saja?.
Negeri ini, bangsa ini, membutuhkan orang-orang yang siap dan orang-orang yang mempunyai komitmen yang tinggi dalam mengabdikan diri terhadap bangsanya dan membrantas kebijakan-kebijakan yang tidak manusiawi. Bukan hanya orang-orang yang hanya mencari kepuasan pribadi. Jadi menurut singkat penulis bahwa, pendidikan wajib murah! Pendidikan mutlak dapat dijangkau oleh mereka yang miskin. Posisi orang miskin yang selama ini terlantar, perlu dibangkitkan dan Negara yang pertama kali untuk bertanggung jawab. Karena penulis inggin mencoba memberitahukan kepada semua orang, bahwa pendidiakan saat ini kecelakaan bukan keberhasilan. Pendidiakan kebanyakan menghasilkan jutaan penganggur. Pendidiakan kali ini menjadi lembaga yang melakukan kekejaman yang melakukan sensor kelas sosial. Sungguh mengerikan ketika pendidikan masih dikelola dengan sistem yang kaya gini, maka yang terjadi hanya mengekalkan spiral kekerasan. Spiral yang secara turun-temurun akan melahirkan lebih menyukai mengunakan ‘parang’ dalam menyelesaikan semua soal ketimbang menggunakan ‘pena’. Keprihatinan ini kian memuncak ketika penulis menyaksikan berapa banyak nyawa yang dirampas oleh dunia pendidiakan. Jadi sekolah hendaknya juga member pembekalan akhlak yang baik kepada anak didik.

Sugeng Fitri Aji (chu_enk)
Devisi pendidikan
Berbareng bergerak merebut kedaulatan
Wujudkan demokrasi tuntaskan revolusi
Bersatu kita menggempur bercerai kita menghimpun

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

HIDUP


hidup …
hidup adalah sesuatu yang dijalani …
hidup memang menyakitkan …
hidup ada kala kita diatas dan kita di bawah …
hidup penuh dengan ancaman …
hidup penuh dengan tantangan …
hidup penuh dengan lika-liku cinta …
hidup memanglah bahagia …

tapi menagapa hidup tidak boleh banyak berharap …
harus seperti apakah hidup ini …
aku tanya pada hati …
hati tak menjawab …
tapi hatiku menjadi sedih …
karena tak kuat menahannya …

aku tanya kepada otaku …
tapi otaku menjadi buntu …
harus bagaimana hidup ini …
aku tak tahu harus berbuat apa …
kesini salah kesitu tambah salah …
berilah aku petunjukmu …
agar aku menemukan cinta sejatimu …

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Urek-Urek


Semribit Barat Nang Pereng…
Ngrungokna Suara Gareng…
Monine Ngeeng…Ngeeng…
Godong-godong Padha Joget…
Diantem Nang Barat Pereng…

Musime Agi Leleran Sebaran…
Dadi Musime Bocah-bocah Pada Urek-urek…
Sekang Grumbul Karang Gondang…
Ngulakawu, Kandang Banteng, Mbalai Kambang…
Terbis, Sidamkar Pada Kumpul Kabeh…
Mangkat Nang Medan Perang…

Gempur…Gempur…Gempur…
Monine Cangkeme Bocah-bocah Mangkat Urek-urek…
Si Umam, Asep, Nganggo Klambi Warna Abang…
Si Khayat Nganggo Klambi Lorek-lorek…
Si Chuenk, Budi Nganggo Klambi Tutul-tutul…
Si Santi Ngango Klambi Batik Karo Tudung Coklat…

Uget…Uget…Uget…
Mlakune Welut Neng Lemah Lumpur…
Nek Dicekel Mlorod-mlorod…
Dadi Kudu Sabar Nangani Welut…

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.