Author Archives: abiechuenk

About abiechuenk

Masih Selalu Belajar Agar Dapat Memahami Arti Hidup....

Sistem Pendidikan Nasional Yang Diselewengkan


Sitem Pendidikan Nasionsl
Oleh: Chu_enk Alfazzaeni

A. Pendahuluan
Berbicara tentang kesejahteraan dan kemajuan negara maka tidak bisa lepas dari yang namanya pendidikan, segala bentuk pembagunan dalam sebuah negara haruslah memiliki keilmuan tergantung dengan bidangnya masing-masing. Ketika jepang di bom oleh sekutu yang pertam kali ditanyakan bukanlah berapa jumlah pasukan yang tersisa, tapi berepa jumlah guru yang tersisa. Ini membuktikan betapa pentingnya sebuah pendidikan yang akan dibebankan kepada seorang guru, yang mana dengan adanya seorang guru akan mampu menciptakan tentara-tentara baru,pamimpin-pemimpin baru untuk negara jepang.
Namun, apalah jadinya ketika pendidikan hari ini hanya mampu diakses oleh segelintir orang, yang mana pendidikan hanya buat orang-oarang yang berduit dan tidak pernah menghiraukan orang-orang miskin, apa bedanya dengan zaman kolonial yang mana hanya keturunan kaum priyai yang mampu mengakses dunia pendidikan.
B. Esensi Dasar Pendidikan
Esensi dasar sebuah pendidikan adalah pendidikan yang mampu menciptakn humanisasi bukan dehumanisasi.yaitu, menciptakan kepribadian seseorang yang bisa menghargai orang lain, dan membebaskan sebuah penindasan dalam diri manusia itu sendiri. Bukan menciptakan seseorang yang bersifat egoisme yang tidak mau tahu dengan realitas yang terjadi. Apakah pendidikan sekarang sudah menciptakan esensi dasar pendidikan itu sendiri..?? Saya rasa belum karena pendidikan sekarang yang kita kenal adalah gaya bank,, yang mana murid sebagai obyek investasi dan sebagai sumber deposito potensial yang mana kelak dapat mendatangkan hasil yang berlipat ganda. Mereka tidak berbeda dengan komoditi yang lazim kita kenal. Investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga kemasyarakatan mapan dan berkuasa, sedangkan depositornya adalah berupa ilmu pengetahuan yang akan diajarkan kepada anak didik. Anak didikpun lantas diperlakukan sebagai `”bejana kosong” yang siap diisi, sebagai sarana penanaman ”modal ilmu pengetahuan” yang akan dipetik hasilnya kelak. Jadi, guru adalah subyek aktif, sedangkan murid adalah obyek pasif yang penurut, dan sebagai obyek ilmu pengetahuan yang tidak berkesadaran. Pendidikan akhirnya bersifat negatif dimana guru memberi imformasi yang harus ditelan oleh murid, yang wajib diingat dan di hapalkan. Bila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, tersebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pada ayat 2 disebutkan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan dalam UU No. 20/2003 pasal 5, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus, warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus, warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus serta setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.
C.Pendidikan Dizaman Globalisasi
Setelah kita mengintip sedikit apa esensi dari pendidikan maka saatnya kita melihat bagaimana pendidikan kita di era globalisasi sekarang ini..? Di zaman globalisasi ini atau yang kita sebut dengan zaman yang modern dan penuh persaingan antar negara yang sangat ketat baik dibidang ekonomi, politik, sosial dan budaya bahkan dalam dunia pendidikan. Kita semua bisa sedikit bersyukur dan tersenyum karena dibatalkan UU BHP pada 31 Maret 2010 kemarin oleh MK (Mahkamah Konstitusi). Tapi apakah kita harus sampai disini perjuangan kita untuk mencapai pendidikan yang murah dan berkualitas..? Tidak kawan..!! Tugas kita masih banyak,,OK,,kita boleh bangga karena UU BHP sudah dibatalkan. Lantas apakah dengan dibatalkan UU BHP rakyat kecil akan dapat mengakses pendidikan. Kenyataanya begitu ironi dan menyedihkan karena masih banyak orang-orang yang mempunyai ekonomi lemah tidak dapat mengakases pendidikan karena pendidikan kita masih mahal. Ini tidak berbeda jauh dengan masa penjajahan dulu kawan. Dan diakui atau tidak bahwa sistem pendidikan kita masih mewarisi sistem pendidikan feodal atau kolonial yang mana hanya kaum-kaum yang berduit yang mampu untuk mengakses dunia pendidikan. Berapa juta orang yang tak mampu untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi hanya karena tidak memiliki dana yang memadai. Kesenjangan pendidikan yang semakin parah ini sampai membuat orang mengatakan bahwa rakyat miskin dilarang sekolah. Padahal semua warga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Bukankah majunya pendidikan juga akan menjadikan bangsa ini terpandang?. Anehnya banyak dari kalangan pemerhati, pelaku pendidikan, bahkan para wakil rakyat yang katanya siap menampung aspirasi rakya juga tidak mempersoalkan hal yang mendasar seperti ini.
Sangat memalukan bahwa pendidikan juga saat ini telah menjadi sebuah industri dan perdagangan. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai. Belum lagi diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk. Pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang sebagai upaya membangun pemberontakan.
Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini sangat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas dalam keilmuan dan membaca realitas. Dan begitu juga dengan UU 75 % yang mana mahasiswa akan digiring kedalam kampus, dalam artian kawan-kawan mahasiswa tidak akan megenal dunia luar, yang mana jika kawan-kawan dibentrokkan dengan ruang lingkup yang sempit maka akan tercipta juga yang namanya pemikiran yang sempit. Itulah pendidikan kita sekarang..apkah kita mau pendidikan kita ini terus berlanjut seperti ini?? Apakah anak cucu kita akan kita generasikan ke negara yang seperti ini?? Nasib bangsa ada pada kita semua dan itulah esensi dasar kita sebagai mahasiswa yang berintelektual. Maka sangat disayangkan seorang mahasiswa yang dikenal sebagai Agen Of Change namun tidak mengenal realitas yang ada, begitu ironinya jika sebagian dari kita masih mempunyai sifat hedonis terhadap realitas disekitar kita. Dan jangan bilang Negara bukan urusan kita yang sebagai jurusan imformasi, pendidikan, tehnik, sosiologi, kita lihat Che Gue Vara adalah seorang dokter namun dia tetap turun berjuang bahkan mempertaruhkan nyawa untuk negaranya yaitu Kuba.
Dan saya ucapkan selamat anda terpilih menjadi Seorang mhasiswa yang akan selalu di didik untuk kritis mengahadapi segala persoalan. Jangan biarkan sistem yang mengatur kita tapi kita yang mengatur sebuah sistem untuk kepentingan kita bersama. Dan kita ciptakan sistem yang baik, karena jika Bangsa yang akan maju pesat salah satunya harus mempunyai sistem yang baik didalamnya. Seperti kata-kata dari seorang Prof. Dr. Yusril mengatakan bahwa “sebaik-baiknya orang jika masuk dalam sistem yang buruk maka orang itu akan menjadi buruk, dan sebaliknya jika sejelek-jeleknya orang tersebut dan kemudian masuk dalam sistem yang baik maka orang tersebut akan menjadi baik”..

kembalikan Esensi pendidikan

Sistem Pendidikan Nasional Yang Diselewengkan

Iklan
Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Kemerdekaan Seperti Angin


Kemarin pada tanggal 17 Agustus 2010 telah diperingatinya HUT kemerdekaan Indonesia yang ke-65. semua orang dari balita, anak-anak, orang dewasa, ibi-ibu, bapak-bapak, nenek-nenek, kakek-kakek, pengemis dan pemulung semuanya ikut memperingati hari kejadian Indonesia. jika kita melihat belakang sejarah sekian lama rakyat dan para pahlawan kita dulu untuk memperjuangkan Indonesia dari tanggan para penjajah yang telah menindas sekitar kurang lebih 350 tahun, begitu lama rasanya kalau kita rasakan dijajah selama itu. kesedihan pun sudah tidak bisa dirasakan lagi karena terlalu sering merasakan penindasan. begitu kuat rakyat Indonesia pada masa itu, keberanian untuk merebut kekuasaan imprealisme dan keteguhan untuk mempertahankan tanah air tercinta. sungguh kita patut untuk ajungkan ibu jari kepada para rakyat dan pahlawan kita. sekarang bangsa Indonesia sudah merdeka selama 65 tahun, jika ini kita analogikan dengan manusia seperti kita umur 65 tahun sudah dewasa. jika manusia sudah dewasa itu sudah bisa hidup mandiri dan menjaga diri akan ancaman dari orang lain, dan mengetahui dimana yang benar dan salah. sekarang kita sudah begitu lama merasakan kemerdekaan tapi hak asasi untuk setiap rakyat Indonesia belum semua didapatkan oleh rakyat-rakyat kecil. dan penindasan masih dirasakan dalam bidang pendidikan, sosial, politik, ekonomi, dan budaya. orang miskin dilarang sekolah begitu ironi slogan tersebut menjadi pedomana pendidikan indonesia. seharusnya semua rakyat Indonesia baik miskin maupun kaya mempunyai hak dan peran yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan yang seperti redaksi UUD 1945 yang berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa. tidak hanya dalam bidang pendidikan bahkan bidang ekonomi, politik dan sosial budaya. begitu sedih para pahlawan jika melihat realitas yang seperti sekarang ini. hari kemerdekan seakan-akan melintas begitu saja tidak arti yang berkesan bagi para rakyat miskin. apakah ini semua yang dicita-citakan oleh para pahlawan yang telah gugur mendahului kita. ayo kita bangkit bersama untuk memwujudkan cita-cita pahlawan yang direbut oleh kaum elite politik yang tidak berpihak terhadap rakyat miskin. kesatuan rakyat dapat mengalahkan semua penindasan yang dilakukan oleh para elite politik yang tidak bertanggung jawab. Salam Perjuangan…!!!

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

RESUME PENDIDIKAN NILAI UNTUK ANAK USIA 8 – 14 TAHUN


PENDIDIKAN NILAI UNTUK ANAK USIA 8 – 14 TAHUN
Oleh: Sugeng Fitri Aji
Banyak sekali anak – anak yang menjadi korban kekerasan dan semakin banyaknya masalah – masalah yang timbul akibat kurangnya penekanan terhadap pendidikan nilai, maka dibuatlah LVEP yang menjawab semua itu.
Living Values an Educational Program adalah program pendidikan nilai, program ini menyajikan pengalaman atau metodologi yang bias digunakan dalam mengembangkan atau mengeksplorasi nilai – nilai pada anak atau remaja. Menurut laporan murid – murid sangat menanggapi LVEP dan setelah belajar dengan LVEP murid lebih percaya diri, mengahrgai orang lain dan menunjukkan keterampilan social dan pribadi yang positif dan kooperatif.
Tujuan – Tujuan LVEP:
 Membantu individu memikirkan dan merefleksikan nilai – nilai.
 Untuk memperdalam pemahaman, motivasi, dan tanggung jawab saat menentukan pilihan.
 Untuk menginspirasi individu memilih niliai –nilai pribadi, sosial, moral dan spiritual dan menyadari metode yang digunakan untuk mengembangkannya dan memperdalamnya.
 Untuk mendorong pengajar memendang pendidikan sebagai sarana memberikan filsafat – filsafat hidup kepada para murid.
Dengan LVEP membantu para mrid dalam menggunakan kreativitas mereka dan bakat – bakat mereka yang akan membuat mereka lebih senang dan menarik hati, sehingga dalam sebuah pembelajaran yang disesuaikan dengan kebudayaan sekitar akan lebih menginspirasi para murid.LVEP dimulai tahun 1995 oleh Brahma Kumaris dalam rangka ulang tahun PBB yang ke – 50. Proyek ini terfokus pada dua belas nilai universal. Dari hal tersebut maka dibuatlah bukju Living Values: A Guide Book.
Kemudian muncul LVEI (Living Values: an Education Initiative) pada tahun 1996 untuk mengidentifikasi kebutuhan murid dalam penglaman nilai – nilai, dan bagaimana para pengajar bias mengintegrasikan nilai – nilai. Kemudian Living Values Educators Kit pun sipa digunakan pada Februari 1997, danLiving Values telah mulai dilaksanakan.
LVEP dirancang untuk memotivasi murid dan mengajak mereka untuk memikirkan diri sendiri, orang lain, dunia dan nilai – nilai tang terintegrasi. Tujuan untuk merasakan pengalaman di dalam diri sendiri dan membangun sumber daya diri dan untuk memperkuat dan memancing potensi, kreativitas, dan bakat – bakat tiap murid. Latihan tersebut untuk membangun keterampilan menghargai diri, komunikasi social yang positif, berpikir kritis, dan menyatakan diri lewat seni dan drama.
Tiga asumsi dasar LVEP:
1. Mengajarkan penghormatan dan penghargaan.
2. Murid memperhatikan nilai –nilai dan mampu menciptakan dan belajar dengan positif.
3. Murid berjuan dalam suasana berdasarkan nilai dalam lingkungan yang positif.
Selama pelatihan para pendidik dan anak didik ikut berpartisipasi dalam berbagai aktivitas nilai yang disesuaikan dengan keadaan mereka, yang kemudian dengan model teoritis dan landasan yang mendasari aktivitas nilai yang dipresentasikan setelah guru mendiskusikan ide – ide mereka tentang praktik mengajar yang baik kemudian pelatihan beralih ke keterampilan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan nilai – nilai tersebut.
Dengan mendengar tidaklah cukup bagi anak agar bisa benar – benar bias maka anak harus mengalaminya dalam berbagai tingkat dan menjadikan nilai tersebut bagian dari diri mereka. Dibutuhkan pula keterampilan sosial agar bisa menggunakan nilai tersebut dalam kegiatan sehari – hari. Dan sangat penting juga mereka menjelajahi topik keadilan dan seseorang yang bias dijadikan contoh.Diletakkan pada setiap awal pelajaran yang ada. Butir tersebut berisi definisi –definisi nilai dan memberikan konsep abstrak untuk direnungkan.Dalam beberapa unit murid disuruh membayangkan dunia yang penuh dengan rasa damai. Dengan visualisasi maka nilai akan tersa lebih relevan karena murid akan mencari tempat di dalam diri mereka sendiri untuk mengetahui kualitas nilai yang ada dalam diri mereka.
Keheningan merupakan sesuatu hal yang dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat dinikmati. Akan tetapi itu merupakan suatu hal yang dapat dinuakan untuk mematuhi permintaan orang dewasa. Latihan tersebut akan membantu murid lebih tenang , puas diri, dan lebih baik dalam berkonsentrasi.Anak –anak didorong untuk berefleksi tentang nilai dan mengalami nilai tersebut dengan artistic dan kreatif dalam kesenian.Aktivitas ini menyuruh anak agar mengeksplorasi nilai dalam kaitannya dengan diri mereka sendiri atau membangun keterampilan dengan nilai.
Dalam unit ini para guru dimnita bias mengajarkan cara menyelesaikan masalah – masalah sesuai dengan nilai.Para murid didorong untuk melihat akibat dari perbuatan mereka masing – masing pada orang lain dan bagaiman mereka bisa membuat sebuah perbedaan.Dalam unit toleransi, kesederhanaan, dan persatuan mengetengahkan elemen tanggung jawab social yang menarik dan menyenangkan. Dalam unit kesederhanaan juga terdapat beberapa saran untuk menghargai dan melestarikan bumi kita.
Dalam buku ini memancing guru agar bisa berkreativitas dengan nilai yang disesuaikan dengan kebudayaan disekitar kita, mungkin dengan menggunakan lagu daerah atau kisah – kisah yang dapat dimasukkan dalam nilai.Dalam beberapa hal guru biasanya memulai dengan di dalam kelas saja, akan tetapi ada juga sekolah yang mengharuskan bahwa aktivitas nilai dilakukan oleh semua isi sekolah, bahkan dapat juga mengikut sertakan orang tua didalamnya. Dan dalam pemberian nilai nilai dalam pelajaran bisa sesuai dengan yang direkomendasikan atau sesuai kebutuhan.
Bila satu sekolah memulai unit nilai secara bersamaan maka kegiatan yang bisa dilakukan adalah kegiatan singkat bersama – sama. Dan dalam pemakaian lagu gunakan lagu – lagu yang disenangi yang sesuai dengan nilai yang sedang dipelajari.Karena unit kedamaian adlah unit yang paling sering mendapatkan perhatian dari para murid bahkan murid yang suka berkelahipun juga memperhatikannya. Dan unit kedamaian dapat mengurangi kenakalan pada anak – anak yang kurang termotivasi. Dan unit pengahargaan merupakan unit yang menyentuh perasaan. Kemudian dari kedua unit ini akan selalu digunakan dalam unit – unit berikutnya.
Urutan yang Disarankan untuk Unit – Unit Nilai.
1. Kedamaian
2. Penghargaan
3. Cinta
4. Toleransi
5. Kebahagiaan
6. Tanggung Jawab
7. Kerja Sama
8. Kerendahan Hati
9. Kejujuran
10. Kesederhanaan
11. Kebebasan
12. Persatuan
Dalam hal ini dituntut agar para pengajar lebih berkreasi dalam mengajarkan nilai – nilai, karena kreativitas sangat mendukung dalam pelajaran nilai. Kalau setiap pelajaran gurunya berbeda maka para guru bisa mengintegrasikan pelajarannya nilainya agar tidak saling bertubrukan.

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

PENDIDIKAN di INDONESIA SEHARGA EMAS ?


Pendidikan di Indonesia Seharga emas ?
Oleh: Sugeng Fitri Aji (chu_enk)
Pendidikan kini menjadi sebuah lembaga pendidikan bagi orang-orang yang mempunyai uang saja, inilah kenyataan yang harus dihadapi setiap orang miskin, yang sadar bahwa dirinya adalah kaum yang dilarang sekolah. Berbicara tentang kesejahteraan dan kemajuan negara maka tidak bisa lepas dari yang namanya pendidikan, segala bentuk pembagunan dalam sebuah negara haruslah memiliki keilmuan tergantung dengan bidangnya masing-masing. Melihat kebelankang ketika jepang di BOM oleh sekutu yang pertama kali ditanyakan bukanlah berapa jumlah pasukan yang tersisa, tapi berapa jumlah guru yang tersisa. Ini membuktikan betapa pentingnya sebuah pendidikan yang akan dibebankan kepada seorang guru, yang mana dengan adanya seorang guru akan mampu menciptakan tentara-tentara baru, pemimpin-pemimpin baru untuk negara jepang.
Berangkat dari kegelisahan penulis yang melihat realitas bahwasanya pendidikan di Indonesia masih belum sesuai dengan apa yang di cita-citakan oleh UUD 1945 yang mana “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Indonesia”. Dan esensi dasar sebuah pendidikan adalah pendidikan yang mampu menciptakn humanisasi bukan dehumanisasi yaitu: menciptakan kepribadian seseorang yang bisa menghargai orang lain, dan membebaskan sebuah penindasan dalam diri manusia itu sendiri. Bukan menciptakn seseorang yang bersifat egoisme yang tidak mau tau dengan realitas yang terjadi. Ini semua bersebrangan dengan implementasinya atau realitasnya dalam tataran masyarakat. Yang mana ketika kita lihat masih ada orang-orang miskin yang tidak bisa mengakses pendidikan, di karenakan biaya pendidikan sekarang mahal. Kawan-kawan bisa lihat sendiri di pertigaan yang akan masuk UIN SUKA maupun di perempatan-perempatan jalan di kota. Yang mana bisa kita lihat sesosok anak kecil yang imut, polos, harusnya belajar, bermain dengan teman-teman, sekolah, tapi apa? Ironis sekali, bahwa keseharian anak-anak itu adalah bekerja menjual koran bahkan sampai ada yang minta-minta (pengemis). Siapa yang salah ketika kita melihat hal seperti itu? Apakah orang tua yang tidak mampu membiayai anak sekolah? Atau, malah pemerintah yang tidak menjalankan hakekat atau esensi pendidikan? Terus kemana dana APBN 20% untuk pendidikan?.
Labih tragis lagi ketika ada pengusuran tempat tinggal orang-orang miskin yang ada di kota, alasannya karena akan ada pembangunan MAL atau gedung pencakar langit. Ini semua tidak lah manusiawi yang mana perekonomian sudah rendah, malah ditambah penderitaan lagi sampai mereka kehilangan tempat tinggalnya. Begitu menyedihkan hal ini terjadi di bumi pertiwi kita. Kalo ada pepatah mengatakan “Udah Jatuh Ketimpa Tangga” itu yang dialami mereka ketika terjadi penggusuran. Penggusuran yang berdampak pada tempat tinggal saja melainkan juga terabaikannya hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Ini seakan-akan negara telah memusnahkan ekonomi mereka. Sudah terbuang dari lembaga pendidikan kemudian tersiksa karena dipaksa untuk melacur, ini telah mendongkrak angka kemiskinan dalam jumlah yang fantastis. Andil berbagai pihak sangat besar, untuk kasus penggusuran diatas, tentu pemerintahan kota yang bertanggung jawab. Kebijakan penggusuran yang bertujuan untuk mengeliminasi tingkat kepadatan ternyata membawa implikasi pada anak didik. Pemerintah menjadi pihak yang tidak pernah bisa memantau efek kebijakan yang diambilnya terutama yang terkait erat dengan pendidikan. Bukan saja pemerintah, bahkan anggota dewan kerapkali juga “Tuli” terhadap persoalan pendidiakn. Apakah ini semua pantas terjadi ketika di Indonesia melihat bumi pertiwi kita yang kaya akan SDA?.
Tanggal 2 Mei 2010 mempunyai arti penting dalam kancah pendidiakan nasional di Indonesia. Ketika kita mendengar tanggal 2 Mei maka pikiran kita teringat pada sosok tokoh pendidikan Bapak Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar yang bernama asli R.M. Suwardi Suryaningrat merupakan tokoh pendidikan nasional. ing ngarso sung tulodo, (di depan memberi teladan). ing madyo mangun karso, (di tengah membangun karya). tut wuri handayani, (di belakang memberi dorongan). Itulah tiga kalimat dari ajaran seorang ningrat Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang kita kenal Ki Hadjar Dewantara. Pelopor Perguruan Taman Siswa, untuk menyediakan lembaga pendidikan bagi orang-orang miskin pribumi. Ini kemudian diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional dan hari lahirnya 2 Mei (1889) diabadikan menjadi Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah pada tahun 1959. Yang besok tanggal 2 Mei 2010 kalau kita hitung sudah menginjak tahun ke-51 dari ditetapkannya HARDIKNAS oleh pemerintah pada tahun 1959. Pendidikan Indonesia tercinta ini sudah hampir masuk usia yang tua. Tapi belumlah benar-benar sesuai dengan tujuan pendidikan itu. Tujuan untuk menuntut ilmu, menanbah pengetahuan, meningkatkan intelektualitas untuk mengembangkan bagi diri sendiri, keluarga dan juga masyarakat. Ilmu yang bermanfaat yang diaplikasikan untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan peran dan spesialisnya masing-masing individu. Yang diharapkan dari ilmu bermanfaat itu adalah terciptanya Bangsa yang cerdas berpendidikan sehingga dapat memajukan kehidupan bangsa Indonesia ini yang sesuai dengan amanat UUD.
Namun, apalah yang terjadi saat ini kawan-kawan. Masih banyak orang-orang miskin yang tidak dapat mengakses pendidikan yang nantinya akan bermanfaat untuk untuk dirinya sendiri dan kemajuan bangsa Indonesia tercinta ini. Sekarang banyak sekolah SD, SMP, SMA yang bertaraf Internasional dan fasilitasnya sangat memadai untuk perkembangan anak didik. Tapi sekolah itu hanya untuk orang-orang berduit banyak karena biaya sekolahnya mahal. Contohnya, salah satu sekolah taraf Internasional di Yogyakarta yang kata orang-orang biaya per-Bulan sampai Rp. 600.000. Ini akan berdampak pada pendidikan hanya dapat diakses segelintir orang. Yang mana pendidiakan hanya untuk orang-orang berduit (kaya), tidak mempedulikan orang miskin. Apa bedanya dengan pendidikan pada masa kolonial, yang mana pada masa itu system yang digunakan oleh pemerintah kolonial adalah sistem pendidikan yang bersifat diskriminatif. Artinya hanya orang-orang keturunan saja yang dapat bersekolah, adapun dari pribumi yang dapat bersekolah namun pribumi yang berasal dari golongan priyayi. Apakah sistem pendidiakan sekarang ini sudah mengadopsi sistem pemerintahan kolonial?. Begitu ironi ketika Negara kita mengadopsi sistem pemerintahan kolonial. Karena kita seperti mengotori dan mengabaikan Amanat UUD dan sejarah perjuangan Bapak pendidiakan kita Bapak Ki Hadjar Dewantara yang dulu berjuang untuk memperjuangkan pendidikan untuk semua rakyat Indonesia untuk dapat mengakses pendidiakan.
Zaman dimana sekolah murah tampaknya memang sudah usai. Bahkan keingginan tuk menjadi seorang guru kini terasa sebagai sesuatu yang tidak realistis. Guru memang profesi yang mulia dipapan nama, tapi sengsara dalam kenyataan. Hanya beberapa gelintir sekolah yang memberikan imbalan yang “manusiawi” pada guru. Jika diusut lebih jauh, komersialisai pendidkan ini bersinggung erat dengan perubahan tatanan serta pergeseran formasi kelas sosial yang berlangsung saat ini, formasi sosial yang meluluhlantahkan struktur dan sistem sosial yang lama. Termasuk kedalam dunia pendidiakan.Hal ini yang harus menjadi tugas kita sebagai kaum muda intelektual untuk terus memantau pendidikan Indonesia dan nantinya akan menjadi penerus bangsa Indonesia tercinta ini. Kenapa hanya sebab kita inggin mengakses dunia pendidikan harus membayar mahal? Bahkan belum jelas kualitas yang diberiakan oleh lembaga pendidiakan saat ini untuk masa depan kita ketika lulus sekolah, apakah hanya akan mencetak pengangguran saja?.
Negeri ini, bangsa ini, membutuhkan orang-orang yang siap dan orang-orang yang mempunyai komitmen yang tinggi dalam mengabdikan diri terhadap bangsanya dan membrantas kebijakan-kebijakan yang tidak manusiawi. Bukan hanya orang-orang yang hanya mencari kepuasan pribadi. Jadi menurut singkat penulis bahwa, pendidikan wajib murah! Pendidikan mutlak dapat dijangkau oleh mereka yang miskin. Posisi orang miskin yang selama ini terlantar, perlu dibangkitkan dan Negara yang pertama kali untuk bertanggung jawab. Karena penulis inggin mencoba memberitahukan kepada semua orang, bahwa pendidiakan saat ini kecelakaan bukan keberhasilan. Pendidiakan kebanyakan menghasilkan jutaan penganggur. Pendidiakan kali ini menjadi lembaga yang melakukan kekejaman yang melakukan sensor kelas sosial. Sungguh mengerikan ketika pendidikan masih dikelola dengan sistem yang kaya gini, maka yang terjadi hanya mengekalkan spiral kekerasan. Spiral yang secara turun-temurun akan melahirkan lebih menyukai mengunakan ‘parang’ dalam menyelesaikan semua soal ketimbang menggunakan ‘pena’. Keprihatinan ini kian memuncak ketika penulis menyaksikan berapa banyak nyawa yang dirampas oleh dunia pendidiakan. Jadi sekolah hendaknya juga member pembekalan akhlak yang baik kepada anak didik.

Sugeng Fitri Aji (chu_enk)
Devisi pendidikan
Berbareng bergerak merebut kedaulatan
Wujudkan demokrasi tuntaskan revolusi
Bersatu kita menggempur bercerai kita menghimpun

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

HIDUP


hidup …
hidup adalah sesuatu yang dijalani …
hidup memang menyakitkan …
hidup ada kala kita diatas dan kita di bawah …
hidup penuh dengan ancaman …
hidup penuh dengan tantangan …
hidup penuh dengan lika-liku cinta …
hidup memanglah bahagia …

tapi menagapa hidup tidak boleh banyak berharap …
harus seperti apakah hidup ini …
aku tanya pada hati …
hati tak menjawab …
tapi hatiku menjadi sedih …
karena tak kuat menahannya …

aku tanya kepada otaku …
tapi otaku menjadi buntu …
harus bagaimana hidup ini …
aku tak tahu harus berbuat apa …
kesini salah kesitu tambah salah …
berilah aku petunjukmu …
agar aku menemukan cinta sejatimu …

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Urek-Urek


Semribit Barat Nang Pereng…
Ngrungokna Suara Gareng…
Monine Ngeeng…Ngeeng…
Godong-godong Padha Joget…
Diantem Nang Barat Pereng…

Musime Agi Leleran Sebaran…
Dadi Musime Bocah-bocah Pada Urek-urek…
Sekang Grumbul Karang Gondang…
Ngulakawu, Kandang Banteng, Mbalai Kambang…
Terbis, Sidamkar Pada Kumpul Kabeh…
Mangkat Nang Medan Perang…

Gempur…Gempur…Gempur…
Monine Cangkeme Bocah-bocah Mangkat Urek-urek…
Si Umam, Asep, Nganggo Klambi Warna Abang…
Si Khayat Nganggo Klambi Lorek-lorek…
Si Chuenk, Budi Nganggo Klambi Tutul-tutul…
Si Santi Ngango Klambi Batik Karo Tudung Coklat…

Uget…Uget…Uget…
Mlakune Welut Neng Lemah Lumpur…
Nek Dicekel Mlorod-mlorod…
Dadi Kudu Sabar Nangani Welut…

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Blog di WordPress.com.