LAPORAN PENELITIAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN (STUDY IDOLA REMAJA)


ABSTRAKSI

IDOLA REMAJA

Dalam perjalanan kehidupan  manusia tidak akan lepas dari peran dan keberadaanya orang lain. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang mana tidak bisa lepas dari bantuan atau pertologan orang lain. Itu adalah fitrah dari manusia sendiri, manusia biasanya dalam perjalanan kehidupannya mempunyai idola. Biasanya idola adalah seseorang yang dikagumi dan disukai dari sikap dan tindakannya oleh orang yang mengidolakan. Sehingga orang yang mengidolakan dapat meniru dan membuat pola kehidupannya tidak jauh berbeda dari yang diidolakan. Remaja adalah masa pencarian identitas diri, masa transisi yang penuh dengan masalah dan mencari pola hidup dewasa yang lebih baik kelak. Dan kebanyakan orang yang mempunyai idola adalah kalangan anak remaja, karena mereka masih dalam keadaan krisis identitas. Artinya, Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Dan disini bahwa remaja dalam pencarian identitas diri maka akan banyak tiruan-tiruan dari orang lain yang mungkin peran dan sikapnya membuat remaja ini terkagum.

Dengan pertimbangan inilah, maka penulis sebagai mahasiswa pendidikanan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan tertarik untuk mengangkat tema Idola Remaja. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui sejauh mana pengaruh idola dalam pencarian identitas diri pada masa remaja, Bagaimana manfaat yang didapat oleh remaja, dan bagaimana pengaruh idola terhadap motivasi remaja dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penelitian ini, penulis mengunakan metode wawancara terpimpin terstrukstur. Hal ini digunakan agar hasil tanggapan dari informan tidak terlalu menyimpang dari pembahasan sehingga proses wawancara tersusun sistematis. Disamping itu, dalam penulisan ini mengunakan metode observasi retrospeksi  adalah mengobservasi baru kemudian mengadakan pencatatan. Dan dalam pendekatannya penulis mengunakan pendekatan narasi deskritif, penggunaan narasi deskripsi dalam penelitian tersebut digunakan sebagai upaya agar penulisan ini dapat mencapai objektifikasi keilmuan.

Hasil penelitian yang diperoleh dengan mengunakan metode wawancara dan observasi adalah bahwa peran idola itu memang sangat berpengaruh dalam proses pencarian jati diri remaja, bahwa idola juga sangat berperan sebagai motivator dalam menuju kehidupan yang berkualitas dan berbudi pekerti yang baik. Namun, dari kedua informan yang penulis wawancarai bahwa idola juga dapat menjadikan pemicu kepada keburukan atau sering dikatakan sebagai dampak negatifnya, yaitu antara lain jika seseorang terlalu fanatik dan terobsesi yang berlebihan sampai memuja-muja, hal ini ditakutkan akan menjadikan pemicu untuk menyekutukan Allah SWT. Dan dilain sisi jika terlalu fanatik maka akan dapat mengakibatkan emosi antar remaja menjadi naik, sehingga akhirnya pada bertengkar dan berantem antar remaja.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Perubahan kejiwaan ini menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode strum und drang. Sebabnya karena mereka mengalami penuh dengan gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku dikalangan masyarakat.[1] Karena remaja adalah masa yang berada di antara anak-anak dan masa dewasa. Ia adalah masa di mana individu tampak bukan anak-anak lagi, tapi juga tidak tampak sebagai orang dewasa yang matang, baik pria maupun wanita.[2]

Disini penulis melihat bahwa peran remaja begitu besar dalam kemajuan bangsa Indonesia sendiri. Karena remaja adalah pundi-pundi penerus para pejuang yang telah mengharumkan nama bangsa Indonesia. Bahwa memang remaja sudah diklaim sebagai penerus pejuang-pejuang bangsa maka secara tidak langsung para remaja harus mulai menyiapkan dan siap menghadapi tantangan didepannya, harus mempunyai jiwa yang kuat, tegas, bijaksana, dan bertanggung jawab. Dan pertanyaanya, jika ada seorang remaja yang mungkin tidak dapat besikap baik dan bijaksana lantas kita harus berbuat seperti apa?. Dalam hal ini agar  terbentuk sikap yang baik, bijaksana, adil, tanggung jawab dalam diri manusia sendiri maka pastinya banyak faktor yang akan mempengaruhinya. Baik faktor internal maupun ekternal.

Berangkat dari fenomena yang dipaparkan diatas maka penulis mencoba meneliti bagaimana faktor ekternal mempengaruhi sikap dan pencarian indentitas remaja, fokus peneliti adalah dalam hal idola. Karena bagi penulis bahwa idola merupakan faktor ekternal yang hampir semua remaja mempunyai idola. Maka dari itu penulis memfokuskan dalam pembahasan penulisan ini pada idola remaja dalam mempengaruhi proses pencarian jati diri dan sebagai motivator dalam kehidupan sehari-hari.

  1. B.     Rumusan Masalah

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dasar pemikiran di atas maka penulis dapat menarik rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian idola dan remaja?
  2. Bagaimana pengaruh idola terhadap perkembangan pada masa remaja yang mencari identitas diri?
  3. Bagaimana pengaruh idola terhadapa motivasi remaja dalam kehidupan sehari-hari?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pegertian Reamaja

Periodisasi masa remaja (Pubertas, Remaja Awal dan Remaja Akhir) dalam sudut pandang psikologi islam disebut amrad [3], yaitu fase persiapan bagi manusia untuk melakukan peran sebagai khalifah Allah di bumi adanya kesadaran akan tanggung jawab terhadap sesama makhluk meneguhkan pengabdiannya kepada Allah melalui amar ma’ruf nahi munkar pubertas. Pubertas berasal dari bahasa pubes (dalam bahasa latin) yang berarti ramput kelamin, yaitu merupakan tanda kelamin sekunder yang menekankan pada perkembangan seksual.[4]

Masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Perubahan kejiwaan ini menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode strum und drang. Sebabnya karena mereka mengalami penuh dengan gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku dikalangan masyarakat.[5] Karena remaja adalah masa yang berada di antara anak-anak dan masa dewasa. Ia adalah masa di mana individu tampak bukan anak-anak lagi, tapi juga tidak tampak sebagai orang dewasa yang matang, baik pria maupun wanita.[6] Sehingga tidaklah heran jika dalam masa remaja banyak hal yang dilakukan remaja itu banyak yang negatif atau menyimpang dari aturan-aturan masyarakat maupun syari’at.

  1. Aspek-aspek Perkembangan Masa Remaja
    1. Perkembangan Fisik

Masa remaja ditandai dengan percepatan pertumbuhan fisik. Pertumbuhan perkembangan fisik pada akhir masa remaja menunjukan terbentuknya remaja laki-laki sebagai bentuk khas laki-laki dan remaja perempuan menjadi bentuk khas perempuan.[7] Pertumbuhan fisik ini mengalami perubahan dengan cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan masa anak-anak dan masa dewasa. Untuk mengimbangi pertumbuhan yang cepat itu, remaja membutuhkan makan dan tidur yang lebih banyak.

  1. Perkembangan Seksual

Perkembangan seksual kadang-kadang menimbulkan masalah dan menjadi penyebab timbulnya perkelahian, bunuh diri,dan sebagainya. Perkembanga seksual pada anak-anak laki-laki biasanya ditandai antaranya: alat produksi sperma yang mulai berproduksi (mereka mengalami masa mimpi yang indah pertama, dan tanpa sadar mereka mengeluarkan sperma). Sedangkan pada anak perempuan bila rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia sudah mendapatkan mentruasi (datang bulan) yang pertama.

  1. Perkembangan Kognisi

Ketika masa remaja cara berpikir mereka ialah cara berpikir kausalitas, yaitu menyangkut hubungan sebab dan akibat. Misalnya remaja duduk didepan pintu, kemudian orang tua melarangnya sambil berkata “pantang” (suatu alasan yang bisa diberikan orang tua di Sumatera secara turun-temurun). Anadaikan yang dilarang itu anak kecil, pastia dia akan menurut perintah dari orang tuanya, tetapi lain halnya jika remaja maka ia akan mempertanyakan mengapa ia tidak boleh duduk di depan pintu. Namun jika orang tua tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya itu, dan menganggap anak yang dinasehati itu melawan, lalu orang tua itu marah padanya, maka anak yang sedang menginjak remaja itu pasti akan melawannya. Sebab anak itu merasa dirinya sudah berstatus remaja, sedangkan orang tua itu memperlakukanya seperti anak-anak yang bisa dibodoh-bodohi.[8]

  1. Konsep Kecerdasan

Kemampuan berpikir termasuk dalam aspek kognitif yang sering disebut dengan kecerdasan atau intelegensi. Charles Spearman, mengatakan bahwa intelegensi adalah suatu kemampuan yang merupakan kemampuan tunggal artinya semua tugas dan prestasi mental hanya menuntut dua macam koalitas saja, yaitu intelegensi umum dan ketrampilan individu dalam hal tertentu.

  1. Pengukuran Kecerdasan

Kecerdaasan dapat diukur melalui tes kecerdasan, orang pertama yang melakukan tes kecerdasan ini adalah Binet yang mengukur fungsi kognitif, tes tersebut kemudian disempurnakan oleh Theodore Simon, sehingga dikenal tes inteligensi Binet-Simon, hasil tes dikenal Inteligency Quotien (IQ) yang menunjukan tingkat inteligensi seseorang. Adapun rumus untuk menghitung sekor IQ adalah: IQ=MA/CAX100%.[9]

  1. Perkembangan Emosi

Keadaan emosi pada remaja masih labil karena erat kaitannya dengan keadaan hormon. Suatu saat ia bisa sedih sekali, dan dilain waktu ia bisa marah sekali. Hal ini dapat terlihat pada remaja yang sedang putus cinta atau remaja yang tersinggung perasaannya, misalnya ia dipelototi atau dihina-hina. Kalau sedang senang-senangnya mereka kadang mudah lupa diri karena mereka belum mampu menahan emosi yang meluap-luap itu, bahkan remaja ada yang terjerumus dalam tindakan yang tidak bermoral.[10]

  1. Pengertian Idola

Kata idola sering kita dengar, karena kata idola begitu familiar di tengah realitas sosial. Kata idola dalam kamus ilmiah diartikan sembahan, pujaan, sanjungan.[11] Tidak heran jika banyak dari kalangan remaja yang hampir semua pasti memliki idola dalam hidupnya. Artinya pujaan hati yang secara tidak langsung memberi stimulus baik motivasi atau sikap yang baik pada dirinya.

Orang yang mengidolakan idola disebut dengan idolator, baik pertanyaannya adalah apakah harus orang yang besar, kaya, selebritis, usahawan, dan yang elit-elit yang harus kita idolakan?. Bagaiku tidak idola dari orang yang bukan selebritis pun banyak. Karena ketika kita mengidolakan orang yang besar, namun mereka sikap da perbuatannnya jelek maka jelas yang banyak orang pilih adalah orang kecil yang mempunyai karisma yang alim dan bijaksana.

  1. Motif

Motif berasal dari bahas latin movere yang berarti bergerak atau to move (Branca, 1964). Karena itu motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force.

  1. Teori-teori Motif

Di atas telah sedikit dijelaskan tentang motif, walaupun hanya dasar dan sederhana. Motif atau driving state dapat timbul karena stimulus internal, stimulus eksternal, ataupun interaksi antara keduanya (Crider, dkk., 1983). Misalnya keinginan untuk mendapatkan restu (approval) adalah dari stimulus ekternal, yaitu keadaan sosial. Kadang motif timbul karena stimulus internal, namun apa yang akan dimakan dan bagaimana makannya, merupakan hal yang dipengaruhi oleh lingkungan, dipengaruhi oleh faktor belajar.

Mengenai motif ada beberapa teori yang diajukan yang memberi gambaran tentang beberapa jauh peranan dari stimulus internal dan eksternal. Teori-teori tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Teori insting
  2. Teori dorongan
  3. Teori intensif
  4. Teori atribusi
  5. Teori kognitif
  6. Jenis-jenis Motif

Dalam masalah motif terdapat adanya macam-macam motif, namun ternyata pendapat ahli yang satu dapat berbeda dengan pendapat ahli yang lain. Disamping itu ada ahli yang menekannkan pada sesuatu macam motif, tetapi ada juga ahli yang menekankan pada macam motif yang lain. Namun demikian para ahli pada umumnya sependapat bahwa ada motif yang berkaitan dengan kelangsungan hidup organisme, yaitu yang disebut sebagai motif biologis (Gerungan, 1965).

  1. Motif fisiologis

Dorongan atau motif fisiologis pada umumnya berakar pada keadaan jasmani, misal dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan seksual, dorongan untuk mendapatkan udara segar.

  1. Motif Sosial

Motif sosial merupakan motif yang kompleks, dan merupakan sumber dari banyak prilaku atau perbuatan manusia.

  1. Motif eksplorasi, kompetensi, dan self-aktualisasi

Pembicararaan meneganai motif belumlah tuntas jika belum membahas atau mengemukakan ketiga motif ini, khususnya menyangkut manusia. Ketiga motif ini ialah,

  1. Motif untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkungan.
  2. Motif untuk menguasai tantangan yang ada dalam lingkungan dan menanganinya dengan secara efektif.
  3. Motif untuk aktualisasi diri, yang berkaitan sampai seberapa jauh seorang dapat bertindak atau berbuat untuk mengaktualisasikan dirinya seperti yang dikemukakan oleh Maslow.[12]

BAB III

HASIL PENELITIAN

  1. A.    Identitas Diri Remaja A

Nama dari informan pertama yang penulis wawancarai dan teliti adalah Muhammad Burhanudin, Dia lahir di Grobogan, 12- Sepetember-1991, anak ketiga dari empat bersaudara, Alamat rumah: Jln. Raya Sulursari, RT01/RW04, Desa Pandan Harum, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Dia dilahirkan dari pasangan suami istri yang berlatar belakang baik, ayahnya bernama Mochammad Mudjahid Baqin alumni Pondok Pesantren Langitan, Widang-Tuban-JaTim, dan ibunya bernama Masruatun alumni Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen-Demak.

Riwayat pendidikannya dia mulai belajar di TK (Taman Kanak-kanak) tepatnya TK itu di daerah Pandan Harum selama dua tahun. Kemudian setelah itu melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu di Madrasah Ibtidaiyah Fathul Ulum. Kemudian dilanjutkan lagi dalam satu yayasan tetapi berbeda tingkatannya, yaitu masuk pada jenjang Madrasah Tsanawiyah Fathul Ulum. Setelah lulus dari MTs kemudian saudara Burhan melanjutkan ke Madrasah Aliyah Mambaus Sholohin, Yayasan Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, desa Suci, kecamatan Manyar, kabupaten Gresik-JATIM.

Setelah selesai atau lulus dari Madrasah Aliyah Mambaus Sholihin pada tahun 2009,  kemudian dia melanjutkan pada Institut Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA) jurusan Pendidikan Agama Islam dan aktif  di Organisasi Santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin (OSPMS) sebagai sekretaris komplek Al-Ghozali dan anggota Departeman  Minat dan Bakat sebagai koordinator pelatihan Sanggar Kaligrafi. Tetapi dengan dia melanjutkan dalam pendidikannya dia merasa tidak cocok baik dengan lingkungannya ataupun  bidang yang dia ikuti. Setelah satuh tahun dalam perjalanan hidup yang begitu membosannkan dia mempunyai padangan untuk berpindah kampus. Alhasil pada tahun ajaran 2010-2011 di UIN Sunan Kalijaga  dia mencoba mendaftar, dan hasilnya Alhamdulillah diterima di Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Jurusan Sastra Inggris.

Sekarang saudara Burhan tinggal di Yogyakarta di daerah Kotagede, tepatnya Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin. Karena dia ingin lebih mendalami ilmu-ilmu agama yang dulu pernah di lakukan pada jenjang pendidikan yang sebelumnya. Dan dia aktif di organisasi yang ada di pondoknya, yaitu orgaisasi KASTA (Kaum Sarungan Kota). Meskipun saudara Burhan hanya sebagai angota, karena dia masih baru dalam lingkungan pondoknya, namun saudara burhan sudah sering menyumbangkan ide atau gagasan demi keeksisitensian organisasi KASTA  tersebut, Selain itu dia juga anggota Himpunan Alumni Mambaus Sholihin (HAMAM) dan Keluarga Mahasiswa Grobogan Yogjakarta (KaMaGaYo) sebagai sarana untuk mempererat tali siaturrahim antara para alumni pondok Mambaus Sholihin dan sesama mahasiswa Grobogan.[13]

  1. B.     Indentitas Idola Remaja A

Saudara Burhan mengidolakan sosok seorang yang begitu berwibawa, dan bijaksana yang membawa banyak perubahan dalam hidupnya, beliau tidak lain adalah pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci-Manyar-Gresik  yaitu KH. Masbuhin Faqih. Beliau adalah Alumni Pondok Pesantren Darussalam, Gontor-Ponorogo dan Pondok Pesantren Langitan, Widang-Tuban.

Karena menurut saudara Burhan Beliau bukan hanya seorang Kyai atau Guru yang mengajarkan ilmu agama, Tapi juga seorang Maha Guru yang begitu luar biasa yang karena Fadhol dari Allah dapat mengemban amanah membimbing ribuan santri menjadi seorang yang bukan hanya Alim dan Sholeh, tapi juga Kafi yang berarti seorang santri yang cakap dan mampu mengahadapi tantangan zaman.  Sehingga dapat mengaplikasikan motto pesantren. “Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang di anggap lebih baik”. Baik secara tersirat maupun tersurat.

Mungkin prilaku atau Uswatun Hasanah dari beliau yang samapi detik ini masih ternanam dalam setiap detak nafas saudara Burhan adalah cinta terhadap dzurriyyah Rosul dan Ketaatan beliau kepada gurunya yaitu KH. Abdullah Faqih pengasuh Pondok Pesantren Langitan, Widang-Tuban-JaTim. Begitu cintanya beliau terhadap para keturunan sang rahmatan lil ‘alamiin, setiap tahun ada banyak habaib yang di undang beliau baik dalam negeri maupun luar negeri karena dengan cinta kepada keturunan Nabi Muhammad SAW, maka akan bertambah keberkahan pada hidup dan pondok pesantren.

Yang selanjutnya adalah ketaatan beliau pada gurunya atau dalam istilah pesantren Khidmah ata mengabdi pada guru dan di setiap untaian kata penyejuk hati  beliau kepada santri-santrinya selalu menamkan “Wa bil ilmi tuntafa’u wa bil khidmati turtafa’u”, dan dengan berilmu seseorang itu akan menjadi bermanfaat dan dengan berkhidmah atau mengabdi seseorang itu akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Guru disini bukan hanya seorang Kyai atau Pengasuh Pondok Pesantren, Tapi semua guru yang pernah mengajarkan kamu meskipun hanya satu huruf. Sehingga tidak ada istilah mantan Guru. Seperti petuah sayyida Ali “Ana ‘abdu man ‘allamani, walau harfan wakhidan”.[14] Di sini letak kekaguman saudara Burhan kepada beliau dan sampai sekarang pun dia masih megidolakan beliau.

  1. C.    Pengaruh Dalam Pencarian Jati Diri Remaja A

Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri atau banyak orang mengatakan jati diri. Dengan sebuah perjalanan hidup pada masa remaja yang penuh dengan masalah dan masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa artinya masa yang berada diantara kanak-kanak dan masa dewasa.[15] Tentunya dalam perjalanan ini banyak faktor yang mempengaruhi baik faktor internal maupun eksternal. Dan kebanyakan faktor-faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan faktor ini saling berkaitan dan saling terafiliasi untuk mencapai prilaku yang baik. Karena faktor dalam akan ditentukan oleh faktor luar, dan sebaliknya.[16]

Dalam penelitian ini penulis meneliti saudara Muhammad Burhanudin, karena terkait upaya penulis dalam pencarian seberapa jauh pengaruh seorang idola dalam perjalanan masa remaja yang sering disebut dengan pencarian jati diri. Setelah penulis melakukan metode wawancara kepada saudara Muhammad Burhanudin, yang mana tadi sudah dijelaskan dimuka bahwasanya menurut saudara Burhan bahwa beliau (idola) membawa pengaruh yang begitu besar dalam pencarian jati dirinya sebagia seseorang yang lebih baik dan pribadi yang Alim, Sholeh, Kafi. Karena belajar dari beliau saudara Burhan seakan terinspirasi dari sosok beliau yang ikhlas mencurahkan jiwaraga dan harta bahkan nyawa untuk menyebarkan agama Allah SWT.[17]

  1. D.    Pengaruh Idola Tehadap Motivasi Remaja A

Motif sebagai pendorong pada umumnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling kait mengait dengan faktor-faktor lain. Hal-hal yang mempengaruhi  motif disebut motivasi. Kalau ornag ingin mengetahui mengapa oranga berbuat atau berprilaku ke arah sesuatu yang dikerjakan, maka orang tersebut akan terkait dengan motivasi atau perilaku yang termotivasi(motivated behavior). motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kearah tujuan.[18]

Dalam penelitian ini penulis meneliti saudara Muhammad Burhanudin, karena dalam upaya untuk mengetahui bagaimana pengaruh idola dalam motivasi kehidupan saudara Muhammad Burhanudin dan setelah melakukan metode wawancara dan observasi dengan beliau sehingga menghasilkan data menurut dia adalah bahwasanya Idola jelas menjadi motivasi utama bagi saudara Burhan, karena menurut saudara Burhan jika setiap orang diberi pertanyaan yang sama, mengapa anda ingin menjadi seperti itu atau menjadi jati diri seperti itu (idola) ? pastilah mereka akan  menjawab karena saya ingin menjadi yang seperti idola saya. Jadi menurut saudara Burhan Idola tidak hanya sebagai motivator saja tapi lebih, karena idola juga seseorang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan remaja, Baik menjadikan remaja menjadi lebih baik atau bahkan menjadikan jati diri remaja yang sangat buruk sekalipun, dan terkadang perkataan idola lebih diperhatikan melebihi peran orang tua sendiri.[19]

  1. A.    Identitas Diri Remaja B

Dalam penelitian ini penulis meneliti saudara  Moch Mizan Fadhil,lahir 17 april 1992 di desa Kepatihan Rt 03 Rw 02 Menganti Gresik Jawa Timur.Anak ke 2 dari 4 bersaudara yang dilahirkan dari pasanagan suami istri Drs.Sumain & Nur hidayati keluarga tersebut berlatar belakang ekonomi yang alhamdulillah  berkecukupan.

Ayahnya diahirkan di desa Tambakberas, kec Cerme , Kab gresik JATIM dan menyelesaikan S1 di salah satu perguruan tinggi Surabaya (UNESA), Bundanya lahir di Desa Kepatihan Rt 03 Rw 02 Kec. Menganti, Kab. Gresik JATIM.

Jenjang pendidikan saudara Moch Mizan Fadhil  dimulai dari TK (Taman Kanak-Kanak) Nurul Huda I di desa kepatihan Rt 03 Rw 02 kecamatan Menganti Kabupaten Gresik dan meneruskan ke lembaga  pendidikan MI (Madrasah Ibtida’iyah) Nurul Huda I selama enam  tahun di wilayah yang sama.

Setelah lulus dari pendidikan dasarnya saudara Moch Mizan Fadhil  melanjutkan ke jenjang lembaga keagamaan MMA (Madrasah Mu’alimin Mu’alimat) dari tahun 2005-2010 selama di MMA saudara aktif di Jam’iyah Atthulab nama lain dari OSIS yang mana lembaga tersebut berdiri di bawah naungan pondok pesantren Sunan Drajat yang diasuh oleh beliau Prof.Dr.K.H Abdul Ghofur  yang  terletak di dusun Banjaranyar  Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan-Jawa Timur. Setelah tamat dari lembaga keagamaannya  Alhamdulillah saudara masih bisa melanjutkan ke perguruan tinggi UIN Sunan Kalijogo Jogjakarta di fakultas Dakwah Jurusan Menejen Dakwah dan sementara tinggal di ponpes Hidayatul Mubtadiin desa darakan barat kota Gede Bantul Yogyakarta.

  1. B.     Identitas Idola Remaja B

Saudara Moch Mizan Fadhil mengidolan sesosok orang yang kepribadiannya bertnggung jawab,tegar menghadapi permasalahan-permasalahan hidup,tidak menyerah dan putus asa melainkan selalu berusaha. Sosok orang tersebut tidak lain adalah Ayah dan bundanya. Latar  belakang dan prilaku kepribadian yang membuat saudara Moch Mizan Fadhil mengidolai dan mengaguminya yakni dari perjalanan hipup. Ayahnya terlahir dari keluarga yang kurang mampu, anak ke empat dari tujuh bersaudara yang  sejak dari lahir belum pernah melihat sosok ayahnya.

Kesehariannya makan dengan makanan seadanya itu pun kalau ada,sedangkan kalau tidak ada ya gag makan bahkan pernah tidak makan sampai tiga hari hanya cukup mengkonsumsi minuman sebagai penyambung hidu, penderitaannya tidak cukup sampai disitu,karana beliau anak lelaki yang pertama yang masih hidup sedangkan saudara yang pertama itu perempuan,saudara ke dua dank e tiganya laki-laki tapi sudah meninggal maka beliau sebagai saudara laki-laki pertama yang masih hidup beliau merasa mempunyai beban bukan hanya kepada dirinya sendiri tapi mempunyai beban sebagai tulang punggung keluarga dan menyekolahkan adik-adiknya.beliau melakoninya dengan cara bekerja seusai sekolah sebagai buruh pengembala kambing milik orang di desanya.

Jarak antara sekolah dan desanya itu kurang lebih 14 km yang mana pada tahun itu masih belum ada yang banyak memiliki sepeda moto, jangankan sepeda motor sepeda ontel aja orang-orang tertentu yang mempunyainya , beliau berangkat dari rumah sebelum subuh dan salat subuh di jalan sehingga sampai sekolah kurang dari jam setengah tujuh,beliau berangkat pagi-pagi berharap agar tidak terlambat.begitu seterusnya, beliau melakoni hingga sampai lulus SMA.

Karena beliau memendam cita-cita dan semangat yang tinggi dengan di tunjang prestasi-prestasi yang di peroleh, beliau bisa melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi di Surabaya (UNESA) dan medapat gelar Sarjana. Selama proses meneuntut ilmu di perguruan tinggi di samping sebagai mahasiswa beliau juga bekerja sebagai guru SMP.setelah menyelesaikan sarajananya beliau di angkat sebagai guru tetap, saat ini beliau menjabat sebagai kepala sekolah dan menjadi ketua takmir masjid.

Bukan hanya beliau saja tapi adik-adik beliau juga mengikuti jejak kakaknya,adik beliau ada yang menjadi PNS,ada yang jadi pengelolah tambak (perikanan) dan ada juga yang menjadi juragan angkot. Bundanya juga terlahir dari kalangan keluarga yang kurang mampu keturunan suku Madura yang terkenal berwatak keras dan kemauannya tidak bisa di cegah. Bundanya anak pertama dari lima bersaudara, ayahnya meninggal pada waktu beliau berumur enam tahun.

Berawal dari umur enam tahun beliau sudah di ajari untuk hidup mandiri. Beliau membantu ibunya bekerja sebagai pedagang ayam potong. Setelah usai sekolah beliau segera pergi ke pasar untuk membantu ibunya menjual ayam-ayam dagangannya, kalau ayam tersebut tidak habis orang tua beliau di suruh pulang untukistirahat dan beliau sendiri yang menjualnya keliling desa bahkan keuar desa sampai ayam tersebut habis tanpa di temani oarang tua. Bundanya menggungakan masa kecilnya bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan menyekolahkan adik-adiknya, tidak seperti anak normal pada umumnnya yang mana masa kecilnya digunakan untuk bermain. Begitu beliau melakoni kesehariannya tanpa mengeluh dan putus asa.

Beliau selalu bergembira meskipun sekilas pernah bertanya-tanya kepada orang tuanya tentang nasib keluarganya. Orang tuanya pun menjawab yang dalam bahasa indonesianya seperti ini meskipun hidup kita sekarang susah, besok harus jadi orang yang berguna, berilmu, beriman dan berakhlakul karimah, pasti derajat akan di angkat”, Kata-kata itu selalu di ingat oleh saudara-saudara dan bundanya saudara Moch Mizan Fadhil. Sampai akhirnya lulus Sekolah Dasar dan memutuskan untuk melanjutkan di Mts pondok pesantren Tambak Beras Jombang JATIM. Agar jadi seperti orang yang di katakana orang tuanya. Beliau selalu tegar dan bersyukur dalam menghadapi dilema-dilema persoalan hidup meskipun beliau wanita di sinilah saudara Moch Mizan Fadhil sangat mengaguminya.[20]

Itulah sekilas kisah yang membuat saudara Moch Mizan Fadhil mengidolakan dan menggumi dua orang yang membuatnya selalu memotivasi diri. Sebenarnya panjang kisahnya tapi cukup itulah yang bisa di persembahkan dari penulis dan informan penulis yang diwawancarai tentang identitas dari idola yang sampai sekarang pun masih mengidolakannya.

  1. C.    Pengaruh Idola Dalam Pencarian Jati Diri Remaja B

Menurut pendapat saudara Moch Mizan Fadhil yang mengidolakan sosok yang bertanggung jawab dan bijakasana, yaitu adalah kedua orang tuanya, ayah dan ibu. Tegasnya bahwa pengaruh dari idola terhadap pencarian jati diri itu sangatlah besar dan frekuensinya begitu tinggi dalam bidang motivator untuk mencapai jati diri yang sejati. Memang banyak yang menjadi idola-idola bagi kehidupan saudara Moch Mizan Fadhil, namun tidak lah seperti kedua orang tua yang begitu membuat saudara Moch Mizan Fadhil sendiri merasakan pengaruh yang sangat besar. Dengan sikap kesabaran dan keteguhan hati dalam mengarahkan dan membimbing yang dilakukan oleh idola, menjadikan tolak ukur untuk membuat saudara Moch Mizan Fadhil menjadi seorang yang lebih baik, berakhlak, berilmu, soleh, dan berguna bagi masyarakat khususnya dan umumnya untuk bangsa Indonesia tercinta.

Dan disamping itu, ada sikap idola yang selalu memberikan nasehat dan tausiyah dalam perjalanan kehidupan saudara Moch Mizan Fadhil dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan badai. Tidak mengenal kata sampai disini, meskipun itu sudah tidak menjadi kewajibannya, karena dari segi umur saudara Moch Mizan Fadhil yang sedang masa remaja (puber).

  1. D.    Pengaruh Idola Tehadap Motivasi Remaja B

Menurut pendapat saudara Moch Mizan Fadhil, bahwa peran idola sangat berpengaruh sebagai pendorong (motivasi) dalam kehidupannya sehari-hari, namun dilain sisi bahwa idola tidak hanya sebagai motivator saja, melainkan sebagai bahan renungan dan rujukan menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas.

  1. E.     Manfaat Mempunyai Idola

Menurut saudara Muhammad Burhanuddin dan Moch Mizan Fadhil bahwasanya disini yang dimaksud adalah Idola yang baik, bukan yang Idola yang merusak genrasi ramaja. Dalam kehidupan remaja  bahwa peran idola mempunyai banyak manfaat atau dampak positif, dan juga terkadang ada dampak negatif nya juga, dianataranya:

v  Dampak Positif:

  1. Remaja dapat meniru perilaku atau hal-hal positif dari idola mereka.
  2. Sebagai motivator dalam menjalani hidup.
  3. Secra tidak langsung sebagai inspirasi atas segala hal remaja lakukan.
  4. Sebagai pencerah penatap cahaya masa depan, untuk mencapai sebuah cita-cita yang besar.

v  Dampak Negatif:

  1. Fanatisme terhadap Idola yang berlebihan yang berakibat pada keyakinan yang berlebihan melebihi keyakinan tehadap Allah SWT.
  2. Seseorag akan menganggap Idola yang lain adalah salah dan Idolannyalah yang paling benar, yang mengakibatkan perpecahan dan pertengkaran antara remaja.[21]

BAB IV

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Perubahan kejiwaan ini menimbulkan kebingungan dikalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode strum und drang. Sebabnya karena mereka mengalami penuh dengan gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku dikalangan masyarakat.

Maka karena itu tidak heran kalau remaja kebanyakan mempunyai idola dalam hidupya demi menuju lebih baik lagi. Idola bukan hanya sebagai mengagumi belaka pada orang yang di idolakan, namu ketika kita semua sudah mengidolakan seseorang yang dianggap oleh kita mempunyai kharisma yang begitu mengagumkan maka kita juga akan terinspirasi dan termotivasi untuk bersikap sama seperti itu. Hasil penelitian yang diperoleh dengan mengunakan metode wawancara dan observasi adalah bahwa peran idola itu memang sangat berpengaruh dalam proses pencarian jati diri remaja, bahwa idola juga sangat berperan sebagai motivator dalam menuju kehidupan yang berkualitas dan berbudi pekerti yang baik.

Memang tidak penulis nafikan bahwa idola pun dapat berdampak negatif dalam kehidupan remaja, hal ini terjadi jika kita tidak mampu mengontrol emosi dan perasaan kita yang tidak terlalu fanatik kepada idola kita. Disisi lain pun idola begitu banyak berperan dalam msa remaja, di sini peran idola setelah melakukan penelitian penulis dapat menyimpulkan bahwa peran idola hampir sama perannya dengan orang tua kita sendiri, terkadang bahkan kita lebih mendengarkan nasehat dari idola kita dibanding dari orang tua kita sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

  • Zulkifli . L, Psikologi perkembangan, Bandung, PT REMAJA ROSDAKARYA, 2009.
  • H.H. Remmers dan C.G. Hacket, Let’s Listen To Youth, Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat,  Memahami Persoalan Remaja, Jakarta, PT Bulan Bintang, 1984.
  • Walgito. Bimo., Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta, ANDI OFFSET, 2004.
  • Al Barry. M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya, ARLOKA, 1994.

[1] Drs. Zulkifli L, Psikologi perkembangan, (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2009), hlm. 63

[2] H.H. Remmers dan C.G. Hacket, Let’s Listen To Youth, Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat,  Memahami Persoalan Remaja, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1984), hlm. 4.

[3] Fuad Nashori, Potensi-Potensi Manusia, (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2003), hlm. 153.

[4] Siti Partini Suardiman, Perkembangan Peserta Didik, (Yogyakarta: FIP UNY, 2006), hlm. 127.

[5] Drs. Zulkifli L, op. cit. Hlm. 63.

[6] H.H. Remmers dan C.G. Hacket, Let’s Listen To Youth, Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat,  op, cit.  hlm. 4.

[7] Dra. Wiji Hidayat, M.Ag dan Sri Purnami, S.Psi, op. cit. Hlm. 143.

[8] Drs. Zulkifli L, op. cit. Hlm. 65.

[9] Abdul Rahman-Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2005), hlm. 196.

[10] Drs. Zulkifli L, op. cit. Hlm 66.

[11] M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: ARLOKA, 1994), hlm. 239.

[12] Prof. Dr. Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: ANDI OFFSET, 2004), hlm.220-232.

[13] Data di ambil dari wawancara kepada saudara Muhammad Burhanudin pada tanggal 20 Desember 2010, pada hari Senin jam 10.15 menit WIB, tempat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede, Yogyakarta.

[14] Data di ambil dari wawancara kepada saudara Muhammad Burhanudin pada tanggal 22 Desember 2010, pada hari Rabu  jam 16.15 menit WIB, tempat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede, Yogyakarta.

[15] H.H. Remmers dan C.G. Hacket, Let’s Listen To Youth, Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat,  Memahami Persoalan Remaja, (Jakarta: PT Bulan Bintang, 1984), hlm. 4.

[16] Prof. Dr. Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: ANDI OFFSET, 2004), hlm. 220.

[17] Data dari hasil wawancara kepada Muhammad Burhanudin.

[18] Prof. Dr. Bimo Walgito, Ibid, hlm. 220.

[19]Data di ambil dari wawancara kepada Remaja A saudara Muhammad Burhanudin pada tanggal 22 Desember 2010, pada hari Rabu  jam 17.00 menit WIB, tempat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede, Yogyakarta.

[20] Data di ambil dari wawancara kepada Remaja B saudara Moch Mizan Fadhil pada tanggal 23 Desember 2010, pada hari Rabu  jam 13.00 menit WIB, tempat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede, Yogyakarta.

[21] Data di ambil dari wawancara kepada Remaja A dan B saudara Muhammad Burhanudin dan Moch Mizan Fadhil pada tanggal 24 Desember 2010, pada hari Rabu  jam 14.00 menit WIB, tempat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Kotagede, Yogyakarta.

Categories: karya ilmiah | Tags: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: