ABORTUS, MENSTRUAL REGULATION DAN INDUKSI HAID DALAM IBADAH PUASA DAN HAJI


KATA PENGANTAR

بسم الله الر حمن الر حيم

Kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan kemudahan untuk mewujudkan makalah ini sehingga dapat tersusun dengan baik.

Makalah ini kami tulis sesuai dengan referensi-referensi yang ada. Materi yang disajikan dalam makalah ini yaitu mengenai abortus, menstrual regulation dan induksi haid dalam ibadah puasa dan haji.

Kami mangucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak-pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah ini serta pihak-pihak yang telah memberi bantuan pemikiran dan proses penyusunan makalah ini.

Semoga makalah yang bertema abortus, menstrual regulation dan induksi haid dalam ibadah puasa dan haji ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kami sadar bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kesalahan yang ada. Untuk itu kami harapkan kritik dan saranya dari semua pihak demi kesempurnaan makalah selanjutnya yang kami tulis.

Yogyakarta, 08 Juni 2011

Pemakalah

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Globalisasi adalah suatu keniscayaan, sebagai konsep pergerakaan yang sudah masuk dalam faham masyrakat dan dengan cepat dapat mempengaruhi berbagai sektor kehidupan. Era globalisasi yang singgung-singgung dengan kemajuan IPTEK, sehingga menjadi suatu keadaan dimana interaksi antar bangsa dan warga negara yang berbeda akan semakin dipermudah. Alhasil berita, informasi, modal, barang, dan segala macam bentuk begitu cepat bisa kita terima. Dan merupakan fenomena-fenomena yang terkadang mempengaruhi aspek agama, yang mana paham liberalisme yang terbungkus rapih dalam paketan globalisasi. Bahkan kita tidak menyadari dan terlalu hedonis akan dampak negatif dari liberalisme. Hal ini yang membuat timbulnya nilai-nilai kebebasan sekulerisme yang dibawa dari peradaban Barat yaitu, suatu paham yang berpendapat bahwa urusan agama harus dipisahkan dengan urusan kehidupan. Faham peradaban Barat yang tidak bermoral ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi peradaban Islam yang adil dan manusiawi.

Islam adalah Agama yang suci dan diridhoi oleh Alloh SWT, yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat untuk semesta alam. Oleh karena itu islam sangat menjaga sekali akan keadilan dan prikemanusiaan seluruh umat. Islam juga sangat mementingkan pemeliharaan terhadap 5 (lima) hal yaitu agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah agama Islam sangatlah memprihatinkan, jika kita sedikit menengok dan menganilisis realita sosial yang penuh dengan kedzaliman dan sudah keluar dari koridor prikemanusiaan yang diamanahkan dalam pancasila. Mulai fenomena penindasan, kemiskinan, pengusuran, dan pembunuhan massal yang dilakukan oleh oknum yang tidak mempunyai hati nurani dan iman. Dan juga fenomena-fenomena yang berkontradiksi dengan syaria’at agama yang akhir-akhir ini sering kita lihat dan jumpai dalam media informasi seperti aborsi, menstrual regulation, dan induksi haid dalam ibadah puasa dan haji. Aborsi dan menstrual telah menjadi penghancur kehidupan umat manusia terbesar sepanjang sejarah dunia, artinya bahwa semua ini sudah menjadi problem sosial yang harus cepat kita tanggapi dengan bijak dan kritis, agar permasalahan ini cepat diselesaikan dan dapat dipahami hukumnya dari kalangan umat islam. Data Aborsi terjadi sangat sulit dihitung secara akurat, karena aborsi buatan sangat sering terjadi tanpa dilaporkan kecuali jika terjadi komplikasi, sehingga perlu perawatan di rumah sakit. Akan tetapi, berdasarkan perkiraan dari BKBN, ada sekitar 2.000.000 kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Berarti ada 2.000.000 nyawa yang dibunuh setiap tahunnya secara keji tanpa banyak yang tahu.[1]

Terlepas dari masalah ini, hukum aborsi, menstrual regulation dan induksi haid dalam ibadah puasa dan haji itu sendiri memang wajib dipahami dengan baik oleh kaum muslimin, baik kalangan medis maupun masyarakat umumnya. Sebab bagi seorang muslim, hukum-hukum Syariat Islam merupakan standar bagi seluruh perbuatannya. Selain itu keterikatan dengan hukum-hukum Syariat Islam adalah kewajiban seorang muslim maka penulis akan membahasa permasalah. Oleh karena itu penulis tertarik meneliti dan menulis makalah yang membahas permasalahan sosial yang kontemporer seperti ini sesuai dengan dasar dan dalil-dalil yang telah sepakati oleh para ulama fiqih dan tokoh-tokoh besar islam. Besar harapan penulis, penulisan ini dapat dimengerti dan dipahami oleh seluruh umat muslim pada khususnya dan masyarakat seluruhnya pada umumnya. Sehingga mereka semua memperkaya cakrawala keilmuannya dan dapat menyebarkan cakrawala yang yang telah didapatnya, sehingga ilmu itu menajdi ilmu yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia yang mendapatkannya.

  1. B.     Rumusan Masalah

Berangkat dari penjelasan larat belakang di atas, maka kami dapat menarik sebuah rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengertian abortus, menstrual regulation, dan induksi haid?
  2. Bagaimana pandangan hukum islam terhadap abortus, menstrual regulation dan induksi haid dalam ibadah puasa dan haji?
  3. C.    Tujuan Penulisan
    1. Untuk mengetahui pengertian abortus, menstrual regulation, dan induksi haid.
    2. Untuk mengetahui pandangan hukum islam terhadap abortus, menstrual regulation dan induksi haid dalam ibadah puasa dan haji.
    3. Menambah ilmu pengetahuan dalam pemahaman mengenai masail fiqih yang kontemporer.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Menstrualregulation Dan Aborsi

Menstrual regulation secara harfiah artinya pengaturan menstruasi/ datang bulan/ haid, tetapi dalam praktek menstrualregulation ini dilaksanakan terhadap wanita yang merasa terlambat waktu menstruasi dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium ternyata positif dan mulai mengandung. Maka ia minta ”dibereskan janinnya” itu. Maka jelaslah, bahwa menstrualregulation itu pada hakikatnya adalah abortus provocatus criminalis, sekalipun dilakukan oleh dokter. Karena itu abortus dan menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah pembunuhan janin secara terselubung.

Perkataan abortus dalam bahasa Inggris disebut abortion berasal dari bahasa latin yang berarti gugur kandungan atau keguguran. Abortus menurut Sardikin Ginaputra (Fakultas Kedokteran UI), ialah pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Menurut Moryono Reksodipura (Faultas Hukum UI) ialah pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya (sebelum dapat lahir secara alamiah).

Aborsi adalah pengguguran kandungan atau penghentian kehamilan dengan cara pelenyapan atau merusak janin pada tahap fetus sebelum kelahiran. Aborsi menjadi masalah karena diidentikkan dengan pembunuhan. Maka larangan aborsi didasarkan pada larangan membunuh manusia kecuali dengan alasan-alasan yang benar.[2]

Dari pengertian di atas dapat dikatakan, bahwa abortus adalah suatu perbuatan untuk mengakhiri masa kehamilan dengan mengeluarkan janin dari kandungan sebelum janin itu dapat hidup di luar kandungan.

  1. B.     Macam-Macam Abortus

Secara umum, pengguguran kandungan dapat dibagi kepada dua macam:

  1. Abortus Spontan (Spontaneus Abortus), ialah abortus yang tidak disengaja. Abortus spontan bisa terjadi karena penyakit syphilis, kecelakaan dan sebagainya
  2. Abortus yang disengaja (Abortus Provocatus/ Induced Pro Abortion) dan abortus ini ada 2 macam:
    1. Abortus Artificialis Therapicus, yakni abortus yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis. Misalnya jika kehamilan diteruskan bisa membahayakan jiwa si calon ibu, karena penyakit yang berat seperti TBC yang berat dan ginjal
    2. Abortus Provocatus Criminalis, ialah abortus yang dilakukan tanpa dasar indikasi medis. Misalnya abortus yang dilakukan untuk meniadakan hasil hubungan seks di luar nikah/ untuk mengakhiri kehamilan yang tidak dikehendaki.
    3. C.    Dampak Abortus
    4. Timbul luka-luka dan infeksi-infeksi pada dinding alat kelamin dan merusak organ-organ di dekatnya seperti kandung kencing atau usus.
    5. Robek mulut rahim sebelah dalam (satu otot lingkar). Hal ini dapat terjadi karena mulut rahim sebelah dalam bukan saja sempit dan perasa sifatnya, tetapi juga kalau tersentuh, maka ia menguncup kuat-kuat. Kalau dicoba untuk memasukinya dengan kekerasan maka otot tersebut akan menjadi robek.
    6. Dinding rahim bisa tembus, karena alat-alat yang dimasukkan ke dalam rahim terjadi pendarahan. Biasanya pendarahan itu berhenti sebentar, tetapi beberapa hari kemudian/ beberapa minggu timbul kembali. Menstruasi tidak normal lagi selama sisa produk kehamilan belum dikeluarkan dan bahkan sisa itu dapat berubah menjadi kanker.
    7. D.    Pandangan Menstrual regulation Dan Aborsi Menurut Perundang-Undangan Republik Indonesia

Berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 299, 346, 348 dan 349 negara melarang abortus, termasuk menstrual regulation dan sangsi hukumannya cukup berat, bahkan hukumannya tidak hanya di tujukan kepada wanita yang bersangkutan, tetapi semua orang yang terlibat dalam kejahatan ini dapat di tuntut, seperti dokter, dukun bayi, tukang obat dan sebagainya yang mengobati atau menyuruh atau yang mambantu atau yang melakukannaya sendiri. Marilah kita perhatikan pasal-pasal KUHP yang berkaitan dengan abortus (pengguguran) sebagai berikut:

Pasal 299 (1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa dengan pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, di ancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.

Pasal 299 (2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika ia seorang tabib, bidan atau juru obat; pidananya dapat ditambah sepertiga.

Pasal 299 (3) Jika yang bersalah, melakuakan kejahatan tersebut; dalam mejalankan pencarian, maka dapat di cabut haknya untuk melakukan pencarian itu.

Pasal 346 Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Pasal 347 (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pasal 347 (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidina penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 348 (1) Barang siapa menggugurkan kandungan atau mematikan seoramg wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

Pasal 348 (2) Jika perbutan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara palang lama tujuh tahun.

Pasal 349: Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346, atau pun melakukan membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang di tentukan dalam pasal itu dapat di tambah dengan sepertiga atau di cabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan di lakukan.

Pasal-pasal tersebut merumuskan dengan tegas tanpa pengecualian bahwa barang siapa memenuhi unsur-unsur kejahatan tersebut diacam dengan hukuman sampai lima belas tahun; bahkan bagi dokter, bidan atau tukang obat yang melakukan atau membantu melakukan abortus, pidananya bisa di tambah sepertiga dan bisa dicabut haknya untuk melakukan praktek profesinya.

Teuku Amir Hamzah dalam disertasinya berjudul: Segi-segi Hukum Pidana pengaturan Kehamilan dan Pengguguran Kandungan menganggap perumusan KUHP tersebut sangat ketat dan kaku, dan hal ini sangat tidak menguntungkan bagi profesi dokter serta dapat menimbulkan rasa cemas dalam melakukan profesinya.

Di satu pihak dokter harus senantiasa mengingat kewajibannya melindungi hidup insani sesuai dengan sumpahnya; namun, dilain pihak dokter dibayangi ancaman hukuman. Menurut Hamzah, ada beberapa alasan yang membenarkan pengguguran kandungan dengan pertimbangan kesehatan, antara lain sebagi berikut:

  1. Ajaran sifat melawan hukum meteriil sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI nomor 24K/Kr 2965 tanggal 8 Januari 1966 dan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI nomor 81K/Kr 1973 tanggak 30 Maret 1977. Ajaran sifat melawan hukum materiil dimaksud adalah, “Sesuatu tindakan pada umumnya dapat hilang sifatnya sebagai melawan hukum bukan hanya berdasarakan sesuatu ketentuan dalam perundang-undangan, melainkan juga berdasarkan asas-asas keadilan atau asas hukum yang tidak tertulis dan bersifat umum yang mengandung unsur-unsur: negara ini dirugikan, kepentingan umum dilayani dan terdakwa tidak mendapat untung.
  2. Penjelasan pasal 10 Kode Etik Kedokteran Indinesia 1983, yang menyatakan, larangan pengguguran kandungan tidak mutlak sifatnya, dan dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan, yaitu sebagai satu-satunya jalan untuk menolong si ibu.

Akhirnya, Hamzah menyarankan agar di buat pengecualian dalam KUHP sehingga pengguguran kandungan yang dilakukan dokter atas pertimbangan kesehatan dapat dibenarkan dan bukan merupakan perbuatan yang melawan hukum.

Tetapi sementara ini di kalangan ahli hukum di Indonesia yang mempunyai ide atau saran agar abortus itu dapat dilegalisasi seperti di negara maju/sekuler, berdasarkan pertimbangan antara lain; bahwa kenyataan abortus tetap dilakukan secara ilegal dimana-mana dan kebanyakan dilakukan oleh tenaga-tenaga nonmedis, seperti dukun, sehingga bisa membawa resiko besar berupa kematian atau cacat berat bagi wanita yang bersangkutan. Maka sekiranya abortus dapat dilegalisasi dan dapat dilakukan oleh dokter yang ahli, maka resiko tersebut dapat dihindari atau dikurangi.

Pendukung ide legalisasi abortus itu menghendaki pasal-pasal KUHP yang melarang abortus dengan sangsi-sangsinya itu hendak di revisi, kerena juga dapat dipandang bisa menghambat pelaksanaan program Keluarga Berencana dan kependudukan. Menurat penulis, pasal-pasal KUHP yang melarang abortus hendaknya tetap di pertahankan dan penulis dapat menyetujui saran Hamzah agar di buat pengecualian dalam KUHP, sehingga pengguguran kadungan yang benar-benar dilakukan atas indikasi medis dapat di benarkan. Dan apabila tanpa indikasi medis, maka abortus dan juga menstrualregulation merupakan perbutan yang tidak manusiawi, bertentangan dengan moral pancasila dan moral agama, dan menpunyai dampak yang sangat negatif berupa dekadensi moral terutama di kalangan remaja dan pemuda, sebab legalisasi abortus dapat medorang keberanian orang untuk melakukan hubungan seksual sebelum nikah (Free sex, Kumpul kebo).

  1. E.     Pandangan Menstrual Regulation Dan Aborsi Menurut Hukum Islam

Aborsi dapat dilakukan sebelum atau sesudah ruh (nyawa) ditiupkan. Jika dilakukan setelah ditiupkannya ruh yaitu masa 4 bulan masa kehamilan, maka semua ulama fiqh (fuqaha) sepakat akan keharamannya. Tetapi para ulama fiqh berbeda pendapat jika aborsi dilakukan sebelum ditiupkannya roh. Sebagian membolehkan dan sebagian lainnya mengharamkan.

  1. a.      Ulama yang membolehkan aborsi sebelum peniupan roh

      Muhammad Ramli (w 1596) dalam kitabnya an-Nihayah dengan alasan karena belum ada makhluk yang bernyawa

      Ada pula yang memandangnya makruh dengan alasan karena janin sedang mengalami pertumbuhan

Namun demikian, dibolehkan melakukan aborsi baik pada tahap penciptaan janin atau pun setelah peniupan ruh kepadanya, jika dokter terpercaya menetapkan bahwa keberadaan janin dalam perut ibu akan mengakibatkan kematian ibu dan janinnya sekaligus. Dalam kondisi seperti ini dibolehkan melakukan aborsi dan mengupayakan penyelamatan kehidupan jiwa ibu. Menyelamatkan kehidupan adalah sesuatu yang diserukan oleh ajaran islam sesuai dengan firman Allah.

QS. Al-Maidah ayat 32

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الأرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Artinya: oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain[411], atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya[412]. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu[413] sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

[411] Yakni: membunuh orang bukan karena qishaash.

[412] Hukum ini bukanlah mengenai Bani Israil saja, tetapi juga mengenai manusia seluruhnya. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

[413] Ialah: sesudah kedatangan Rasul membawa keterangan yang nyata.

Disamping itu aborsi dalam kondisi seperti ini termasuk pula upaya pengobatan. Sedangkan rasulullah saw telah memerintahkan umatnya untuk berobat. Rasulullah bersabda yang artinya ”Sesungguhnya allah azza wa jalla setiap kali menciptakan penyakit dia ciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian! (H.R Ahmad)

Tetapi apabila pengguguran itu dilakukan karena benar-benar terpaksa demi melindungi/ menyelamatkan si ibu maka islam membolehkan, bahkan mengharuskan, karena islam mempunyai prinsip : ”menempuh salah satu tindakan yang lebih ringan dari 2 hal yang berbahaya itu adalah wajib”. Kaidah fiqh dalam masalah ini menyebutkan : ”idza ta’aradha mafsadatani ru’iya a’zhamuha dhararan birtikabin akhaffihima” Artinya : ”Jika berkumpul dua mudharat (bahaya) dalam satu hukum maka dipilih yang lebih ringan mudharatnya” (Abdul Hamid Hakim 1927, Mabadi’ Awaliyah fi Ushul al-Fiqh wa Al Dawa’id al-Fiqhiyah, hal 35).

  1. b.      Pandangana MUI mengenai Abortus

Fenomena Abortus pernah menjadi perbincangan yang intens oleh banyak pemuka agama, melihat realitas sosial yang demikian akhirnya MUI mengeluarkan Fatwa mengenai Abortus. Fatwa MUI mengenai Abortus, Nomor 4 Tanggal 12 Rabi’ul Akhir 1426H/21 Mei 2005 antara lain sebagai berikut.

  1. Aborsi haram hukumnya sejak nidasi (implantasi blastosis pada dinding rahim ibu).
  2. Aborsi dibolehkan karena adanya uzur: darurat atau hajat.
    1. Uzur darurat:

                                                        i.            Perempuan hamil menderita sakit fisik berat seperti kanker stadium lanjut, TBC dengan caverna dan penyakit-penyakit fisik berat lainnya yang harus ditetapkan oleh Tim Dokter.

                                                      ii.            Dalam keadaan di mana kehamilan mengancam nyawa si ibu.

  1. Keadaan hajat:

                                                        i.            Janin yang dikandung dideteksi menderita cacat genetic yang kalau lahir kelak sulit disembuhkan.

                                                      ii.            Kehamilan akibat perkosaan yang ditetapkan oleh tim yang berwenang yang didalamnya terdapat antara lain keluarga korban, dokter, dan ulama.

  1. Kebolehan aborsi sebagaimana dimaksud huruf b harus dilakukan sebelum janin berusia 40 hari.
  2. Aborsi haram hukumnya dilakukan pada kehamilan yang terjadi akibat zina.[3]

  1. c.       Ulama yang mengharamkan abortus dan menstrual regulation
  • Ibnu Hajar (w. Th 1567) dalam kitabnya al-Tuhfah
  • Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ’Ulumuddin “Dan apabila abortus dilakukan sesudah janin bernyawa/ berumur 4 bulan maka dikalangan ulama telah ada ijma’ (konsensus) tentang haramnya abortus.”
  • Mahmud Syaltut (eks rektor Universitas al-Azhar Mesir) bahwa sejak bertemunya sel sperma (mani laki-laki) dengan ovum (sel telur wanita) maka pengguguran adalah suatu kejahatan dan haram hukumnya, sekalipun si janin belum bernyawa sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi makhluk baru yang bernyawa bernama manusia yang harus dihormati dan dijaga eksistensinya. Dan makin besar dosanya apabila pengguguran dilakukan setelah janin bernyawa, apalagi sangat besarnya dosanya kalau sampai dibunuh/ dibuang bayi yang baru lahir dari kandungan.
  • Pendapat yang disepakati fuqaha, yaitu bahawa haram hukumnya melakukan aborsi setelah ditiupkannya roh (4 bulan) didasarkan pada kenyataan bahwa peniupan ruh terjadi setelah 4 bulan masa kehamilan. Abdullah ibn Mas’ud berkata bahwa rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya setiap kamu terkumpul kejadiannya dalam perut ibumu selama 40 hari dalam bentuk ’nuthfah’, kemudian dalam bentuk ’alaqah’. Selama itu pula, kemudian dalam bentuk ’mudghah’ selama itu pula kemudian ditiupkan ruh kepadanya (H.R. Bukhari, Muslim,Abu Daud, Ahmad dan Tirmidzi) Maka dari itu, aborsi setelah kandungan berumur 4 bulan adalah haram karena berarti membunuh makhluk yang sudah bernyawa berdasarkan firman Allah.

 

Surat Al-An’am ayat 151,

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya: Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]”. demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).

[518] Maksudnya yang dibenarkan oleh syara’ seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.

QS al-Isra’ ayat 31,

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرً

Artinya: dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.

QS al-Isra’ ayat 33,

وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَمَنْ قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِ سُلْطَانًا فَلا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا

Artinya: dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar[853]. dan Barangsiapa dibunuh secara zalim, Maka Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan[854] kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

[853] Maksudnya yang dibenarkan oleh syara’ seperti qishash membunuh orang murtad, rajam dan sebagainya.

[854] Maksudnya: kekuasaan di sini ialah hal ahli waris yang terbunuh atau Penguasa untuk menuntut kisas atau menerima diat. qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema’afan dari ahli waris yang terbunuh Yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat Dia mendapat siksa yang pedih. diat ialah pembayaran sejumlah harta karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan.

QS at-Takwir ayat 8-9

بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ  .وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ

Artinya: 8. dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,

9. karena dosa Apakah Dia dibunuh,

  • Syaikh Abdul Qadim Zailum (1998) dan Dr. Abdurrahman al-Baghdadi (1998), hukum syara’ yang lebih rajih (kuat) adalah sebagai berikut : jika aborsi dilakukan setelah 40 hari atau 42 hari dari usia kehamilan dan pada saat permulaan pembentukan janin, maka hukumnya haram. Dalam hal ini hukumnya sama dengan hukum keharaman aborsi setelah peniupan ruh ke dalam janin. Sedangkan pengguran kandungan yang usianya belum mencapai 40 hari maka hukumnya boleh (jaiz) dan tidak apa-apa. Dalilnya ”jika nutfah (gumpalan darah) telah lewat 42 malam maka Allah mengutus seorang malaikat padanya, lalu dia membentuk nutfah tersebut. Dia membuat pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulang belulangnya. Lalu malaikat itu bertanya (kepada Allah) ”ya Tuhanku, apakah dia (akan engkau tetapkan) menjadi laki-laki atau perempuan?. Maka Allah kemudian memberi keputusan…… (H.R. Muslim)

Dalam riwayat lain rasulullah bersabda : ”jika nutfah telah lewat empat puluh malam…..”
Hadis diatas menunjukkan bahwa permulaan penciptaan janin dan penampakan anggota-anggota tubuhnya adalah setelah melewati 40/ 42 malam. Dengan demikian, penganiayaan terhadapnya adalah suatu penganiayaan terhadap janin yang sudah mempunyai tanda-tanda sebagai manusia yang terpelihara darahnya (ma’shumuddam). Tindakan penganiayaan tersebut merupakan pembunuhan terhadapnya.

Mengenai menstrual regulation, islam juga melarangnya karena pada hakikatnya sama dengan abortus, merusak, menghancurkan janin calon manusia yang dimuliakan oleh Allah karena ia berhak tetap dalam keadaan hidup sekalipun hasil dari hubungan yang tidak sah (di luar perkawinan yang sah) sebab menurut islam bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci (tidak bernoda) sesuai dengan hadis nabi:

”Semua anak dilahirkan atas fitrah, sehingga jelas omongannya. Kemudian orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi yahudi, nasrani,/ majusi (H.R Abu ya’la, al-thabrani dan al-baihaqi dari al-aswad bin sari’)

  1. F.      Penilaian Moral Terhadap Kasus Ini Perlu Mempertimbangkan Beberapa Hal Berikut Ini:
    1. Kita tidak boleh menghukum orang yang tidak bersalah. Menghukum orang yang tidak bersalah adalah bentuk dari ketidakadilan. Lebih-lebih lagi kalau hukuman itu berupa hukuman mati, maka menghukum mati orang yang tidak bersalah merupakan pelanggaran berat terhadap keadilan.
    2. Memperalat orang lain. Aborsi langsung demi kesehatan ibu merupakan bentuk pemanfaatan (instrumentalisasi) orang lain demi kepentingan pribadi. Walaupun benar bahwa tugas dan kewajiban tenaga medis ialah untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada semua orang yang datang meminta kesembuhan, tetapi pelaksanaannya tidak boleh dengan mematikan orang lain secara langsung (abortus provocatus directus). Kalau terjadi bahwa janin digugurkan demi keselamatan ibunya, maka ini adalah bentuk pemanfaatan orang lain demi kepentingan pribadi (ibu). Yang diperbolehkan hanyalah aborsi terapeutik tidak langsung di mana tujuan intervensi medis itu adalah untuk menyembuhkan penyakit yang dalam prosesnya terpaksa janinnya gugur. Gugurnya janin bukanlah maksud dari intervensi medis itu sendiri. Misalnya: seorang wanita yang terkena kanker rahim yang ganas padahal dia sedang mengandung dalam usia kehamilan muda. Kalau rahim tidak diangkat maka kanker akan menjalar ke tempat lainnya dan akan mematikan si ibu. Dalam hal seperti ini dokter diperkenankan mengangkat rahim yang kena kanker itu walaupun di dalam rahim itu ada janinnya yang terpaksa mati. Kematian bayi itu sendiri tidak dimaksudkan oleh tindakan intervensi medis itu, tetapi merupakan suatu konsekuensi tak terelakkan dari tindakan medis itu. Demikian juga, intervensi medis itu tidak langsung ditujukan kepada si janin tetapi kepada rahim itu sendiri. Penilaian moral di sini berdasarkan apa yang disebut prinsip double effect. Menurut prinsip ini dalam sebuah tindakan bila terjadi dua efek, yang satu yang baik dan yang lainnya tidak baik, maka tindakan itu bisa dibenarkan bila: yang dimaksudkan oleh tindakan itu adalah yang baik, sedangkan yang tidak baik hanyalah efek yang tidak bisa dielakkan; perbuatan itu sendiri adalah baik (atau sekurang-kurangnya netral); hasil baik itu bukan dihasilkan dengan suatu cara yang jahat; dan hasilnya yang baik itu proporsional bila dibanding dengan hasil negatifnya.
    3. Adanya kemajuan teknologi kedokteran sudah sangat me-ngurangi banyak sekali apa yang tadinya digolongkan sebagai indikasi kesehatan yang valid untuk melakukan aborsi. Dewasa ini ada banyak penyakit yang bisa diatasi tanpa harus melakukan aborsi sehingga alasan indikasi medis itu banyak yang kehilangan dasarnya4. Yang sering terjadi adalah ditempuh jalan yang paling mudah meskipun sebenarnya hal itu melanggar hak asasi manusia.
    4. Harus ada usaha serius untuk mengetahui apakah memang aborsi ini secara objektif menjadi satu-satunya cara untuk menjaga kesehatan si ibu. Apakah masih ada kemungkinan lain untuk menjaga kesehatan itu dengan cara yang lain tanpa harus melakukan aborsi. Di sini diperlukan suatu kejujuran dalam menegakkan diagnosis medis dan sekaligus tugas mulia riset medis untuk menemukan cara-cara baru dalam menjaga dan memelihara hidup manusia.
    5. Indikasi sosio-ekonomis tidak bisa menjadi alasan untuk dila-kukannya aborsi sebab hidup manusia itu jauh lebih bernilai daripada semua nilai ekonomi dan sosial. Prinsip etika yang paling mendasar sudah kita lihat dalam bab sebelumnya bahwa pribadi manusia mempunyai nilai yang sangat luhur dan tinggi di dunia ini dan oleh karena itu mengatasi nilai-nilai lainnya. Nilai-nilai lain seperti ekonomi dan sosial (anak banyak, sulit menyekolahkan, dn.) tidak bisa mengalahkan nilai hidup manusia. Hidup manusia itu tidak bisa diganggu gugat (inviolable).
    6. Hidup fisik manusia, meskipun ini bukan merupakan ke seluruhan pribadi manusia, namun hidup manusia merupakan dasar pertama yang menjadi dasar bagi segala sesuatu yang lainnya. Oleh karena itu, walaupun secara filosofis ada orang tidak setuju bahwa janin itu seorang persona (pribadi) tetapi haknya untuk hidup harus diakui dan dihormati. Semua ahli biologi dan embriologi mengakui bahwa hidup manusia itu mulai sejak saat selesainya proses pem-buahan. Ini adalah suatu data objektif dari biologi yang tidak mengenal ideologi tertentu.
    7. Martabat hidup manusia tidaklah tergantung pada penam-pilan seseorang secara badaniah, tetapi martabat manusia itu ada bersama dengan adanya manusia. Oleh karena itu, hal-hal yang eksternal seperti cacat atau lengkap, berbentuk atau belum berbentuk, laki-laki atau perempuan, dan sebagainya tidaklah mempengaruhi nilai martabat manusia. Oleh karena itu, tidak bisa dibenarkan aborsi oleh karena janin yang cacat atau belum berumur. Aborsi ini lebih dikenal dengan aborsi eugenik, karena janin diaborsi oleh karena kualitas gen/keturunan yang tidak baik.
    8. Ada suatu situasi konflik di mana antara hidup ibu dan bayinya, secara medis hanya bisa diselamatkan nyawa bayinya. Misalnya, seorang wanita hamil mengalami kecelakaan kendaraan sampai koma atau mati otaknya. Kalau pada waktu kecelakaan itu umur kehamilan itu sudah cukup supaya bayinya bisa hidup di luar (viable), maka janin bisa dikeluarkan (lewat operasi caesar) meskipun dengan demikian ibunya meninggal tetapi bisa menyelamatkan anaknya. Kalau seandainya bayinya belum bisa hidup di luar, maka dibenarkan seandainya ibu yang koma atau mati otaknya itu ditopang dengan peralatan medis supaya bayinya bisa berkembang sampai umur bisa hidup di luar rahim. Ketika umur itu tercapai, maka bisa dilakukan bedah caesar untuk menyelamatkan anaknya. Dalam situasi di mana sudah ada kepastian medis bahwa ibunya tidak bisa diselamatkan, maka tidak dibenarkan dibuat usaha untuk menyelamatkan ibu dengan menggugurkan bayi.

  1. G.    Haid

Mengenal darah haid dari optik fiqih haid merupakan ketentuan Allah Swt. Yang berlaku pada setiap wanita saat menginjak remaja. Dalam sebuah Hadis dinyatakan Rosulullah Saw.”Ini (haid) merupakan ketentuan Allah yang ditetapkan pada wanita-wanita bani Adam” (HR.al Bukhori dan Muslim). Meski demikian, tak dinafikan juga ada wanita yang sama sekali tidak pernah mengalami datang bulan (haid), seperti halnya yang dialami oleh Aisyah ra. Persoalan haid dalam fiqih berkaitan dalam hukum-hukum ibadah wanita. Dasar pensyariatan terekam dalam firman Allah Swt. Yang diabadikan dalam surat al-Baqoroh: 222.”Mereka bertanya kepadamu tentang haid. katakanlah,’ia adalah gangguan.” Pertanyaan tentang haid pada ayat tersebut muncul, pasalnya, karena kebiasaan pria-pria yahudi menghidari wanita yang sedang haid, bahkan tidak makan bersama mereka dan meninggalkan rumah saat mereka dalam kondisi seperti itu. Jawaban dalam firman Allah diatas sangat singkat, namun menginformasikan tentang keadaan wanita yang sedang haid.

Haid disebut gangguan. Maksudnya, seperti dijelaskan Quraish shihab dalam tafsir al Misbah, haid mengakibatkan gangguhan fisik dan psikis wanita, juga terhadap pria. Secara fisik, dengan keluarnya darah yang segar mengakibatkan gangguan pada jasmani wanita. Rasa sakit seringkali melilit perut-nya akibat rahim yang berkontraaksi. Disisi lain, darah haid itu mengakibatkan nafsu seksual wanita menurun drastic, emosinya sering tidak terkontrol. Darah yang aromanya tidak sedap serta tidak menyenagkan untuk dilihat juga menjadi salah satu aspek gangguan, disamping emosi istri yang tidak setabil yang juga tidak jarang mengganggu ketenangan suami, atau siapa saja yang ada disamping wanita yang sedang haid.

  1. 1.      Kenali Darah Haid

Darah haid biasanya keluar dari rahim wanita sehat dalam waktu tertentu, bukan karena melahirkan dan bukan karena ada penyakit dalam rahim. Darah ini lazim disebut darah haid. Uantuk mengenali darah haid bisa dilihat dari warnanya. Pada mulanya, warna darah bercorak hitam. Beberapa waktu kemudian berubah warna menjadi merah, kuning, dan semu diantara putih dan hitam. Keluarnya darah ini menjadi tanda yang bersangkutan sudah memasuki aqil baligh, yang berarti pertanda awal seorang wanita dibebeni berbagai hukum syara’(taklif). Ulama fiqih mematok usia wanita mulai haid minimal umur 9 tahun. Penetapan umur 9 tahun ini didasarkan pada hasil penlitian induksi (istiqro’) ulama fiqih serta berdasarkan kenyataan yang ada dizaman mereka.

Menurut Kamil musa tokoh fikih kontemporer, ada juga wanita haid sebelum 9 tahun, meski hal ini sangat jarang terjadi. Pada asas ini, mengikut hukum syara’, yang jarang terjadi tidak bisa dijadikan patokan hukum, disamping bersandar pada kesimpulkan induksi ulama, juga didasarkan pada sebuah hadis dari Asyiah binti Abi Bakar: ”Apabila seorang wanita telah berumur 9 tahun, maka ia sudah dianggap dewasa”. Namun, tidak jarang pula seorang wanita baru mengalami haid pertama setelah umur 12 tahun, 18 tahun, bahkan 30 tahun. Karena itu menurut Musa Kamil, ulama fiqih lebih memilih patokan umur untuk menetapkan seseorang mulai diwajibkan menjalankan hukum syarak (taklif). Para ulama fiqih berbeda soal batasan minimum dan maksimum lamanya masa haid yang dialami seorang wanita. Madzhab Hanafi berkesimpulan, wanita menjalani masa haid minimal 3 hari 3 malam dan maksimal 10 hari 10 malam. Lebih dari masa maksimal tersebut, dianggap bukan darah haid lagi, melainkan berubah menjadi darah istihadhoh. Versi lain, madzhad Safi’i dan Hambali menetapkan, masa haid minimal (al-aqdall) 1 hari 1malam.

Masa sedang atau lumrah (al-ghalib) 6 atau 7 hari, didasarkan sabda Rasulullah saw. Kepada Mihna binti Jahsy ketika ia bertanya. Dan Rosul menjawab:”Jadikanlah masa haidmu selama enam atau tujuh hari dengan pengetahuan Allah, kenudian mandilah engkau dan laksanakan Sholat selama 24 hari 24 malam atau 23 malam….”(HR.al-Bukhori, Abu Dawud, an-Nasa’I, Ahmad bin Hambal,dan at-Tirmdizi). Menurut kedua madzhab ini, masa haid maksimal (al-aktsar) yaitu 15 hari. Lebih dari batas maksimal, dianggap bukan darah haid lagi, tetapi dianggap telah menjadi darah istihadhoh.

  1. 2.      Induksi Haid Perspektif Hukum Islam

Di zaman modern, dunia medis menawarkan aneka obat penahan keluar haid (antihaid), sehingga wanita bisa mengerjakan ibadah haji secara sempurna dan melaksanakan ibadah puasa Ramadhon sebulan penuh tanpa haid. Absah atau tidak cara demikian? Syaikh Mar’I bin Yusuf, Syaikh Ibrohim bin Muhammad (keduanya madzhab hambali) dan Yusuf al-Qardhawi berpendapat, bahwa wanita boleh menggunakan obat penunda haid guna menyempurnakan ibadah haji dan puasa. Namun ulama sepakat, penundaan haid dengan menggunakan obat anti haid untuk selain ibadah haji dan puasa tidak diperbolehkan.

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Mengenai penghentian konsepsi kehamilan sebelum ditiupkannya ruh, para fuqaha telah berbeda pendapat. Ada yang membolehkan dan ada juga yang mengharamkan. Hal ini pun sebaliknya ketika janin sudah ditiupkan ruh pun para fuqaha telah berbeda pendapat. Setelah kami menilai dari alasan-alasan pendapat fuqaha, baik yang membolehkan dan mengharamkan abortus dan menstrual regulation. Maka menurut kami, jika penghentian kehamilan itu dilakukan setelah empat puluh hari usia kehamilan, saat telah terbentuknya janin ( ada bentuknya sebagai manusia ), maka hukumnya haram tidak terkecuali ada hajat yang membahayakan nyawa ibu dan bayi mengalami cacat genetic, hal ini pun dalam pelaksanaan abortus harus sesuai dengan syarat dan ketentuan sesuai dengan syari’at. Dan diperbolehkan jika memang hal ini dilakukan terpaksa dan darurat. Abortus dan menstrual regulation hukumnya adalah haram jika janin sudah berumur 40 hari/ 4 bulan masa kehamilan dan jika ada sesuatu yang mengakibatkan sesuatu yang berbahaya terhadap si ibu jika janin dipertahankan maka dibolehkan.

Senada dengan dilakukan induksi haid yang darurat dan memang untuk kepentingan kesempurnaan ibadah haji dan puasa maka hal ini pun dibolehkan oleh para fuqaha. Namun ulama sepakat, penundaan haid dengan menggunakan obat anti haid untuk selain ibadah haji dan puasa tidak diperbolehkan.

  1. B.     SARAN

Permasalahan hukum Abortus, Menstrual Regilation, dan Induksi Haid dalam ibadah haji dan puasa masih menuai sebuah kontroversi pendapat para alhi fiqih. Hal ini pastinya akan membuat para umat islam pada khususnya yang masih awam akan mengalami sebuah dilematis dalam mengambil sikap. Padahal jelas bahwa fenomena ini sering terjadi dalam lingkungan masyarakat kita di era globalisasi ini. Agar sikap dilematis ini tidak muncul dalam permukaan masyarakat yang awam, apa tidak sebaiknya mengenai hukum Abortus, Menstrual Regilation, dan Induksi Haid dalam ibadah haji dan puasa dapat tersampaikan dengan baik dalam masyarakat yang sudah jelas dan sudah menjadi konsensus para ahli fiqih dan alim ulama. Sehingga hal yang tidak kita inginkan dalam fenomena masyarakat akan sedikit terminimalisisr.

DAFTAR PUSTAKA

Hakim, Abdul Hamid. 1927. Mabadi’ Awaliyah fi Ushul al-Fiqh wa Al Dawa’id al-Fiqhiyah.

Mahjuddin. 2005. Masailul Fiqhiyah. Jakarta : Kalam Mulia.

Sudrajat, Ajat. 2008. Fikih Aktual. Ponorogo : STAIN Ponorogo Press.

Zuhdi, Masjfuk.  1990. Masail Fiqhiyah. Jakarta: Toko Gunung Agung.

______,1986, Islam dan Keluarga Berencana di Indonesia. Surabaya: Bina Ilmu.

Nasution. Khoirudin, 2009. pengantar studi islam. Yogyakarta: ACAdeMIA+TAZZAFA.

http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/09/abortus-dan-menstrual-regulation.html

http://www.abortus perspektif hukum islam.com.

http://www.aborsi.net


[2] Khoirudin Nasution, pengantar studi islam,(yogyakarta:ACAdeMIA+TAZZAFA,2009), hlm. 240

[3] Munawar Khalil, Hand Out Masail Fiqh Abortus Dalam Kajian Hukum Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.  hlm slide. 33

Categories: karya ilmiah | Tags: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: