MENEMUKAN KEMBALI LANDASAN YANG HILANG


“Kehidupan yang tidak dipahami, Karena tidak pernah dipelajari, Tidak bernilai untuk dilalui”.(Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M.Sc, Ed.)

Ada sebuah fenomena yang sering kita lihat dan rasakan di depan mata, yang hampir-hampir tidak terdeteksi oleh analisis kita. Yakni sebuah proses dinamika organisasi yang terjadi ketika organisatoris harus memilih antara menjalankan amanat organisasi tanpa menghiraukan landasasn filosofinya, dengan mendalami filosofi organisasi hanya sebagai pengetahuan belaka, yang tanpa menghiraukan penerapannya. Jika ingin memilih dari satu diantara keduanya, yang mana pun berarti adalah memilih sesuatu yang salah. Karena secara hakiki, tidak ada aktivitas dan atau praktek yang dapat berlangsung tanpa sebuah dasar landasan filosofi, yang sedikitnya filosofi yang terkait dengan makna kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebuah organisasi tanpa dasar ideologi atau filosofi yang jelas, bagaikan kapal yang berlayar tanpa sebuah nahkoda didalamnya, artinya akan terombang-ambing oleh ombak dan angin laut. Sehingga tidak akan pernah sampai pada sebuah orientasi dan arah tujuan yang jelas nantinya. Bukan saja goyah terombang-ambing namun sangat lah berbahaya, karena hal ini tidak menutup kemungkinan bisa membuat tenggelam dalam perjalannya. Sebaliknya, jika tidak ada filosofi yang dapat mendalami problematik organisasi tanpa menjiwai praktek organisasi ini pun dapat membahayakan. Karena sebuah dasar ideologi dan filosofi yang tidak berkelanjutan ke dalam praktek penerapannya yang relevan dalam kehidupan nyata akan mubazir dan tidak layak disebut sebagai filosofi organisasi.

Memang tidak kita pungkiri pada saat tertentu, dalam konteks tertentu, dapat muncul sebuah problem dalam sebuah wadah organisasi, biasanya problem yang lebih dominan ini muncul bersifat pada teknis, dan disaat yang lain pun biasanya bersifat finansial, ketenagaan, kultulral, dan profesionalisme? Tetapi apakah problem yang mengemuka pada suatu saat bersifat teknis, finansial, profesionalisme atau gabungan dari semuanya, namun pada saat yang sama problematik organisasi itu juga selalu bersifat normatif, yakni terkait dengan norma, dan nilai-nilai dasar yang sudah di tanam sebelumnya, yang dapat memberikan relevansi dan makna kepada sifat problematik organisasi yang teknis.

Hal yang negatif ini jika terus dibiarkan maka akan mengakibatkan munculnya hal negatif yang lain, karena kondisi yang negatif tanpa ditangani atau dipecahkan ini sangat mudah meningkatkan pandangan yang semakin negatif seperti sikap pragmatis, hedonis dan individual yang mengutamakan kepentingan pribadi. Maka sangat diperlukan sekali dalam sebuah organisasi harus mempunyai dasar ideologi dan filosofi yang jelas dan relevan dengan kondisi ruang dan waktu dan konteks organisasi yang terkait. Sehingga kita dapat memilih gabungan dari keduanya, yakni praktek yang berdasarkan filosofi yang relevan, untuk senantiasa memberikan pembenaran, arah, tujuan dan makna dari seluruh spektrum kegiatan organisasi. Karena jika memakai filosofi yang tidak relevan maka hanya akan melahirkan falsafah yang tidak jelas. Dan falsafah yang tidak jelas hanya akan semakin memperkuat sikap negatif sebagai tradisi, “kegagalan akan melahirkan kegagalan”.

Categories: informasi | Tags: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: