Sistem Pendidikan Nasional Yang Diselewengkan


Sitem Pendidikan Nasionsl
Oleh: Chu_enk Alfazzaeni

A. Pendahuluan
Berbicara tentang kesejahteraan dan kemajuan negara maka tidak bisa lepas dari yang namanya pendidikan, segala bentuk pembagunan dalam sebuah negara haruslah memiliki keilmuan tergantung dengan bidangnya masing-masing. Ketika jepang di bom oleh sekutu yang pertam kali ditanyakan bukanlah berapa jumlah pasukan yang tersisa, tapi berepa jumlah guru yang tersisa. Ini membuktikan betapa pentingnya sebuah pendidikan yang akan dibebankan kepada seorang guru, yang mana dengan adanya seorang guru akan mampu menciptakan tentara-tentara baru,pamimpin-pemimpin baru untuk negara jepang.
Namun, apalah jadinya ketika pendidikan hari ini hanya mampu diakses oleh segelintir orang, yang mana pendidikan hanya buat orang-oarang yang berduit dan tidak pernah menghiraukan orang-orang miskin, apa bedanya dengan zaman kolonial yang mana hanya keturunan kaum priyai yang mampu mengakses dunia pendidikan.
B. Esensi Dasar Pendidikan
Esensi dasar sebuah pendidikan adalah pendidikan yang mampu menciptakn humanisasi bukan dehumanisasi.yaitu, menciptakan kepribadian seseorang yang bisa menghargai orang lain, dan membebaskan sebuah penindasan dalam diri manusia itu sendiri. Bukan menciptakan seseorang yang bersifat egoisme yang tidak mau tahu dengan realitas yang terjadi. Apakah pendidikan sekarang sudah menciptakan esensi dasar pendidikan itu sendiri..?? Saya rasa belum karena pendidikan sekarang yang kita kenal adalah gaya bank,, yang mana murid sebagai obyek investasi dan sebagai sumber deposito potensial yang mana kelak dapat mendatangkan hasil yang berlipat ganda. Mereka tidak berbeda dengan komoditi yang lazim kita kenal. Investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga kemasyarakatan mapan dan berkuasa, sedangkan depositornya adalah berupa ilmu pengetahuan yang akan diajarkan kepada anak didik. Anak didikpun lantas diperlakukan sebagai `”bejana kosong” yang siap diisi, sebagai sarana penanaman ”modal ilmu pengetahuan” yang akan dipetik hasilnya kelak. Jadi, guru adalah subyek aktif, sedangkan murid adalah obyek pasif yang penurut, dan sebagai obyek ilmu pengetahuan yang tidak berkesadaran. Pendidikan akhirnya bersifat negatif dimana guru memberi imformasi yang harus ditelan oleh murid, yang wajib diingat dan di hapalkan. Bila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, tersebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pada ayat 2 disebutkan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan dalam UU No. 20/2003 pasal 5, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus, warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus, warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus serta setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.
C.Pendidikan Dizaman Globalisasi
Setelah kita mengintip sedikit apa esensi dari pendidikan maka saatnya kita melihat bagaimana pendidikan kita di era globalisasi sekarang ini..? Di zaman globalisasi ini atau yang kita sebut dengan zaman yang modern dan penuh persaingan antar negara yang sangat ketat baik dibidang ekonomi, politik, sosial dan budaya bahkan dalam dunia pendidikan. Kita semua bisa sedikit bersyukur dan tersenyum karena dibatalkan UU BHP pada 31 Maret 2010 kemarin oleh MK (Mahkamah Konstitusi). Tapi apakah kita harus sampai disini perjuangan kita untuk mencapai pendidikan yang murah dan berkualitas..? Tidak kawan..!! Tugas kita masih banyak,,OK,,kita boleh bangga karena UU BHP sudah dibatalkan. Lantas apakah dengan dibatalkan UU BHP rakyat kecil akan dapat mengakses pendidikan. Kenyataanya begitu ironi dan menyedihkan karena masih banyak orang-orang yang mempunyai ekonomi lemah tidak dapat mengakases pendidikan karena pendidikan kita masih mahal. Ini tidak berbeda jauh dengan masa penjajahan dulu kawan. Dan diakui atau tidak bahwa sistem pendidikan kita masih mewarisi sistem pendidikan feodal atau kolonial yang mana hanya kaum-kaum yang berduit yang mampu untuk mengakses dunia pendidikan. Berapa juta orang yang tak mampu untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi hanya karena tidak memiliki dana yang memadai. Kesenjangan pendidikan yang semakin parah ini sampai membuat orang mengatakan bahwa rakyat miskin dilarang sekolah. Padahal semua warga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Bukankah majunya pendidikan juga akan menjadikan bangsa ini terpandang?. Anehnya banyak dari kalangan pemerhati, pelaku pendidikan, bahkan para wakil rakyat yang katanya siap menampung aspirasi rakya juga tidak mempersoalkan hal yang mendasar seperti ini.
Sangat memalukan bahwa pendidikan juga saat ini telah menjadi sebuah industri dan perdagangan. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai. Belum lagi diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk. Pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang sebagai upaya membangun pemberontakan.
Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini sangat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas dalam keilmuan dan membaca realitas. Dan begitu juga dengan UU 75 % yang mana mahasiswa akan digiring kedalam kampus, dalam artian kawan-kawan mahasiswa tidak akan megenal dunia luar, yang mana jika kawan-kawan dibentrokkan dengan ruang lingkup yang sempit maka akan tercipta juga yang namanya pemikiran yang sempit. Itulah pendidikan kita sekarang..apkah kita mau pendidikan kita ini terus berlanjut seperti ini?? Apakah anak cucu kita akan kita generasikan ke negara yang seperti ini?? Nasib bangsa ada pada kita semua dan itulah esensi dasar kita sebagai mahasiswa yang berintelektual. Maka sangat disayangkan seorang mahasiswa yang dikenal sebagai Agen Of Change namun tidak mengenal realitas yang ada, begitu ironinya jika sebagian dari kita masih mempunyai sifat hedonis terhadap realitas disekitar kita. Dan jangan bilang Negara bukan urusan kita yang sebagai jurusan imformasi, pendidikan, tehnik, sosiologi, kita lihat Che Gue Vara adalah seorang dokter namun dia tetap turun berjuang bahkan mempertaruhkan nyawa untuk negaranya yaitu Kuba.
Dan saya ucapkan selamat anda terpilih menjadi Seorang mhasiswa yang akan selalu di didik untuk kritis mengahadapi segala persoalan. Jangan biarkan sistem yang mengatur kita tapi kita yang mengatur sebuah sistem untuk kepentingan kita bersama. Dan kita ciptakan sistem yang baik, karena jika Bangsa yang akan maju pesat salah satunya harus mempunyai sistem yang baik didalamnya. Seperti kata-kata dari seorang Prof. Dr. Yusril mengatakan bahwa “sebaik-baiknya orang jika masuk dalam sistem yang buruk maka orang itu akan menjadi buruk, dan sebaliknya jika sejelek-jeleknya orang tersebut dan kemudian masuk dalam sistem yang baik maka orang tersebut akan menjadi baik”..

kembalikan Esensi pendidikan

Sistem Pendidikan Nasional Yang Diselewengkan

Categories: Uncategorized | 1 Komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: