PENDIDIKAN di INDONESIA SEHARGA EMAS ?


Pendidikan di Indonesia Seharga emas ?
Oleh: Sugeng Fitri Aji (chu_enk)
Pendidikan kini menjadi sebuah lembaga pendidikan bagi orang-orang yang mempunyai uang saja, inilah kenyataan yang harus dihadapi setiap orang miskin, yang sadar bahwa dirinya adalah kaum yang dilarang sekolah. Berbicara tentang kesejahteraan dan kemajuan negara maka tidak bisa lepas dari yang namanya pendidikan, segala bentuk pembagunan dalam sebuah negara haruslah memiliki keilmuan tergantung dengan bidangnya masing-masing. Melihat kebelankang ketika jepang di BOM oleh sekutu yang pertama kali ditanyakan bukanlah berapa jumlah pasukan yang tersisa, tapi berapa jumlah guru yang tersisa. Ini membuktikan betapa pentingnya sebuah pendidikan yang akan dibebankan kepada seorang guru, yang mana dengan adanya seorang guru akan mampu menciptakan tentara-tentara baru, pemimpin-pemimpin baru untuk negara jepang.
Berangkat dari kegelisahan penulis yang melihat realitas bahwasanya pendidikan di Indonesia masih belum sesuai dengan apa yang di cita-citakan oleh UUD 1945 yang mana “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Indonesia”. Dan esensi dasar sebuah pendidikan adalah pendidikan yang mampu menciptakn humanisasi bukan dehumanisasi yaitu: menciptakan kepribadian seseorang yang bisa menghargai orang lain, dan membebaskan sebuah penindasan dalam diri manusia itu sendiri. Bukan menciptakn seseorang yang bersifat egoisme yang tidak mau tau dengan realitas yang terjadi. Ini semua bersebrangan dengan implementasinya atau realitasnya dalam tataran masyarakat. Yang mana ketika kita lihat masih ada orang-orang miskin yang tidak bisa mengakses pendidikan, di karenakan biaya pendidikan sekarang mahal. Kawan-kawan bisa lihat sendiri di pertigaan yang akan masuk UIN SUKA maupun di perempatan-perempatan jalan di kota. Yang mana bisa kita lihat sesosok anak kecil yang imut, polos, harusnya belajar, bermain dengan teman-teman, sekolah, tapi apa? Ironis sekali, bahwa keseharian anak-anak itu adalah bekerja menjual koran bahkan sampai ada yang minta-minta (pengemis). Siapa yang salah ketika kita melihat hal seperti itu? Apakah orang tua yang tidak mampu membiayai anak sekolah? Atau, malah pemerintah yang tidak menjalankan hakekat atau esensi pendidikan? Terus kemana dana APBN 20% untuk pendidikan?.
Labih tragis lagi ketika ada pengusuran tempat tinggal orang-orang miskin yang ada di kota, alasannya karena akan ada pembangunan MAL atau gedung pencakar langit. Ini semua tidak lah manusiawi yang mana perekonomian sudah rendah, malah ditambah penderitaan lagi sampai mereka kehilangan tempat tinggalnya. Begitu menyedihkan hal ini terjadi di bumi pertiwi kita. Kalo ada pepatah mengatakan “Udah Jatuh Ketimpa Tangga” itu yang dialami mereka ketika terjadi penggusuran. Penggusuran yang berdampak pada tempat tinggal saja melainkan juga terabaikannya hak anak untuk mendapatkan pendidikan. Ini seakan-akan negara telah memusnahkan ekonomi mereka. Sudah terbuang dari lembaga pendidikan kemudian tersiksa karena dipaksa untuk melacur, ini telah mendongkrak angka kemiskinan dalam jumlah yang fantastis. Andil berbagai pihak sangat besar, untuk kasus penggusuran diatas, tentu pemerintahan kota yang bertanggung jawab. Kebijakan penggusuran yang bertujuan untuk mengeliminasi tingkat kepadatan ternyata membawa implikasi pada anak didik. Pemerintah menjadi pihak yang tidak pernah bisa memantau efek kebijakan yang diambilnya terutama yang terkait erat dengan pendidikan. Bukan saja pemerintah, bahkan anggota dewan kerapkali juga “Tuli” terhadap persoalan pendidiakn. Apakah ini semua pantas terjadi ketika di Indonesia melihat bumi pertiwi kita yang kaya akan SDA?.
Tanggal 2 Mei 2010 mempunyai arti penting dalam kancah pendidiakan nasional di Indonesia. Ketika kita mendengar tanggal 2 Mei maka pikiran kita teringat pada sosok tokoh pendidikan Bapak Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia. Ki Hadjar yang bernama asli R.M. Suwardi Suryaningrat merupakan tokoh pendidikan nasional. ing ngarso sung tulodo, (di depan memberi teladan). ing madyo mangun karso, (di tengah membangun karya). tut wuri handayani, (di belakang memberi dorongan). Itulah tiga kalimat dari ajaran seorang ningrat Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang kita kenal Ki Hadjar Dewantara. Pelopor Perguruan Taman Siswa, untuk menyediakan lembaga pendidikan bagi orang-orang miskin pribumi. Ini kemudian diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional dan hari lahirnya 2 Mei (1889) diabadikan menjadi Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah pada tahun 1959. Yang besok tanggal 2 Mei 2010 kalau kita hitung sudah menginjak tahun ke-51 dari ditetapkannya HARDIKNAS oleh pemerintah pada tahun 1959. Pendidikan Indonesia tercinta ini sudah hampir masuk usia yang tua. Tapi belumlah benar-benar sesuai dengan tujuan pendidikan itu. Tujuan untuk menuntut ilmu, menanbah pengetahuan, meningkatkan intelektualitas untuk mengembangkan bagi diri sendiri, keluarga dan juga masyarakat. Ilmu yang bermanfaat yang diaplikasikan untuk kehidupan sehari-hari sesuai dengan peran dan spesialisnya masing-masing individu. Yang diharapkan dari ilmu bermanfaat itu adalah terciptanya Bangsa yang cerdas berpendidikan sehingga dapat memajukan kehidupan bangsa Indonesia ini yang sesuai dengan amanat UUD.
Namun, apalah yang terjadi saat ini kawan-kawan. Masih banyak orang-orang miskin yang tidak dapat mengakses pendidikan yang nantinya akan bermanfaat untuk untuk dirinya sendiri dan kemajuan bangsa Indonesia tercinta ini. Sekarang banyak sekolah SD, SMP, SMA yang bertaraf Internasional dan fasilitasnya sangat memadai untuk perkembangan anak didik. Tapi sekolah itu hanya untuk orang-orang berduit banyak karena biaya sekolahnya mahal. Contohnya, salah satu sekolah taraf Internasional di Yogyakarta yang kata orang-orang biaya per-Bulan sampai Rp. 600.000. Ini akan berdampak pada pendidikan hanya dapat diakses segelintir orang. Yang mana pendidiakan hanya untuk orang-orang berduit (kaya), tidak mempedulikan orang miskin. Apa bedanya dengan pendidikan pada masa kolonial, yang mana pada masa itu system yang digunakan oleh pemerintah kolonial adalah sistem pendidikan yang bersifat diskriminatif. Artinya hanya orang-orang keturunan saja yang dapat bersekolah, adapun dari pribumi yang dapat bersekolah namun pribumi yang berasal dari golongan priyayi. Apakah sistem pendidiakan sekarang ini sudah mengadopsi sistem pemerintahan kolonial?. Begitu ironi ketika Negara kita mengadopsi sistem pemerintahan kolonial. Karena kita seperti mengotori dan mengabaikan Amanat UUD dan sejarah perjuangan Bapak pendidiakan kita Bapak Ki Hadjar Dewantara yang dulu berjuang untuk memperjuangkan pendidikan untuk semua rakyat Indonesia untuk dapat mengakses pendidiakan.
Zaman dimana sekolah murah tampaknya memang sudah usai. Bahkan keingginan tuk menjadi seorang guru kini terasa sebagai sesuatu yang tidak realistis. Guru memang profesi yang mulia dipapan nama, tapi sengsara dalam kenyataan. Hanya beberapa gelintir sekolah yang memberikan imbalan yang “manusiawi” pada guru. Jika diusut lebih jauh, komersialisai pendidkan ini bersinggung erat dengan perubahan tatanan serta pergeseran formasi kelas sosial yang berlangsung saat ini, formasi sosial yang meluluhlantahkan struktur dan sistem sosial yang lama. Termasuk kedalam dunia pendidiakan.Hal ini yang harus menjadi tugas kita sebagai kaum muda intelektual untuk terus memantau pendidikan Indonesia dan nantinya akan menjadi penerus bangsa Indonesia tercinta ini. Kenapa hanya sebab kita inggin mengakses dunia pendidikan harus membayar mahal? Bahkan belum jelas kualitas yang diberiakan oleh lembaga pendidiakan saat ini untuk masa depan kita ketika lulus sekolah, apakah hanya akan mencetak pengangguran saja?.
Negeri ini, bangsa ini, membutuhkan orang-orang yang siap dan orang-orang yang mempunyai komitmen yang tinggi dalam mengabdikan diri terhadap bangsanya dan membrantas kebijakan-kebijakan yang tidak manusiawi. Bukan hanya orang-orang yang hanya mencari kepuasan pribadi. Jadi menurut singkat penulis bahwa, pendidikan wajib murah! Pendidikan mutlak dapat dijangkau oleh mereka yang miskin. Posisi orang miskin yang selama ini terlantar, perlu dibangkitkan dan Negara yang pertama kali untuk bertanggung jawab. Karena penulis inggin mencoba memberitahukan kepada semua orang, bahwa pendidiakan saat ini kecelakaan bukan keberhasilan. Pendidiakan kebanyakan menghasilkan jutaan penganggur. Pendidiakan kali ini menjadi lembaga yang melakukan kekejaman yang melakukan sensor kelas sosial. Sungguh mengerikan ketika pendidikan masih dikelola dengan sistem yang kaya gini, maka yang terjadi hanya mengekalkan spiral kekerasan. Spiral yang secara turun-temurun akan melahirkan lebih menyukai mengunakan ‘parang’ dalam menyelesaikan semua soal ketimbang menggunakan ‘pena’. Keprihatinan ini kian memuncak ketika penulis menyaksikan berapa banyak nyawa yang dirampas oleh dunia pendidiakan. Jadi sekolah hendaknya juga member pembekalan akhlak yang baik kepada anak didik.

Sugeng Fitri Aji (chu_enk)
Devisi pendidikan
Berbareng bergerak merebut kedaulatan
Wujudkan demokrasi tuntaskan revolusi
Bersatu kita menggempur bercerai kita menghimpun

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: